Back to detail
Janda Itu "Merindukan" Almarhum Suaminya yang Jahat
Chapter 54 of 100

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 543 min read622 words

Bab 54

Ketika bau menyengat disinfektan menembus rongga hidung, Yu Duo mengerutkan kening. Alisnya berkerut, tampaknya tidurnya sangat tidak nyenyak.

Sinar matahari perlahan masuk melalui celah-celah gorden, menerangi ruangan.

Yu Duo perlahan membuka matanya di ranjang rumah sakit dan langit-langit putih terpantul di matanya. Bau menyengat itu menyadarkan indranya dan mengingatkannya pada pengalaman barusan.

Kenangan terakhirnya adalah malam yang gelap, lampu depan yang menyilaukan, suara gesekan yang keras, dan benturan yang dahsyat.

Dan kalimat yang sangat ia kenal. Hati-hati.

Kecelakaan lalu lintas? Di rumah sakit? Fu Sinian?

Serangkaian pertanyaan melintas di benak Yu Duo.

Ia duduk dan menatap sekeliling dengan linglung. Otaknya yang berkar mulai bekerja perlahan.

Setelah kecelakaan mobil yang mengancam jiwa, Yu Duo merasa tenaga dan semangatnya terkuras habis. Matanya kehilangan fokus dan ia menatap tempat yang sama dalam waktu lama. Wajahnya pucat saat mengingat pemandangan kecelakaan lalu lintas tadi malam. Ia ingat dengan jelas, saat itu, ia sepertinya mendengar sebuah suara.

Saat itu, hanya Xiao Zhang di dalam mobil. Suara itu bukan milik Xiao Zhang, tetapi agak mirip... dengan suara Fu Sinian.

Fu Sinian?

Yu Duo merenung apakah ia berhalusinasi, tetapi suara itu terasa nyata seolah-olah di telinganya.

Apa dia bermimpi...

Bagaimana mungkin dia bisa mendengar suara Fu Sinian tadi malam?

Pintu ruang perawatan terbuka.

Ketika perawat masuk, ia melihat Yu Duo yang sudah sadar dan berseru kaget, "Nyonya Fu sudah sadar!"

Beberapa saat kemudian, pintu ruang perawatan didorong terbuka dan Aqi bergegas masuk.

Ia berdiri di tepi ranjang rumah sakit. Ia membungkuk dan menatap Yu Duo dengan ketegangan yang kuat di matanya.

Begitu suaranya jatuh, suara langkah kaki ramai terdengar dari luar ruang perawatan, termasuk Tante Lian dan beberapa dokter berjas putih.

Yu Duo menolehkan lehernya yang sakit dan menatap Aqi dengan linglung. "Aqi, aku merasa seperti mendengar suara... Sinian."

Aqi tertegun dan tetap terpaku di tempat. Ekspresinya berubah dari tegang menjadi tertegun. Matanya penuh dengan ketidaksabaran dan kemarahan. Akhirnya, ia berbalik dan berkata, "Jangan berkata begitu, kakak ipar..."

"Aku benar-benar mendengar suara Fu Sinian," pikir Yu Duo semakin yakin. Khawatir Aqi tidak percaya, ia menekankan: "Aku tidak bohong padamu, ini benar!"

"Kakak ipar, tenang!" Aqi menarik napas dalam-dalam dan menatap Yu Duo dengan hati-hati. Ia berkata dengan serius kata demi kata seolah berusaha menyadarkan Yu Duo dari mimpinya, "Kakak laki-laki sudah tiada!"

"Aku tahu dia sudah tiada, tapi aku benar-benar mendengar suaranya," tanya Yu Duo padanya, "Kamu tidak percaya padaku?"

Tante cepat menambahkan: "Di rumah, aku pun sering mendengar suara Tuan Fu."

"Benarkah?" Yu Duo menatap Aqi dan berkata dengan penuh semangat, "Lihat, bahkan tanteku sering mendengar suara Sinian."

Aqi menatap Yu Duo dalam diam.

Ia tahu bahwa kakak laki-lakinya telah meninggal dua bulan lalu, tetapi kakak ipar perempuan belum bisa pulih dari kenyataan itu. Ia pikir setelah pergi ke luar negeri selama sebulan untuk bersantai, kakak ipar akan pulih dari traumanya, tetapi ia tidak menyangka bahwa ia semakin tidak bisa melepaskannya dan semakin kecanduan pada fantasinya sendiri.

Kakak laki-laki sudah meninggal dua bulan lalu. Bagaimana mungkin dia masih bisa mendengar suaranya?

Ia tidak tahan dan ingin bicara, tetapi disela oleh tante.

Tante Lian memberinya isyarat mata dan menggelengkan kepala. Ia memberi isyarat agar ia mengikuti perkataan Yu Duo.

"Baiklah, kakak ipar, aku percaya padamu." Ia bertanya sambil tersenyum, "Apa kamu merasa tidak nyaman?"

Yu Duo tersenyum dan berkata, "Aku baik-baik saja, tapi leherku sedikit sakit. Omong-omong, bagaimana kelanjutan kecelakaan mobil itu?"

Ada sedikit emosi redup yang tersembunyi di balik mata Aqi.

Tadi malam Yu Duo mengalami kecelakaan mobil dan ia tahu semua tentang itu.

Truk besar itu (saya sebelumnya menerjemahkannya sebagai mobil. Maaf atas ketidaknyamanan...) tiba-tiba berpindah jalur pada jarak sepuluh meter dari mobil Yu Duo. Pengemudinya tidak memperlambat dan malah menginjak pedal gas sampai habis. Tujuannya jelas. Itu diarahkan ke mobil Yu Duo, tujuannya adalah untuk membunuh!

— End of Chapter 54
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 54 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 54. Please respect spoilers from other chapters.