Bab 75
“Tunggu,” Fu Sinian menghentikan Yu Duo yang sudah berbalik hendak pergi. Dia menutup tutup krim luka bakarnya dan menyerahkannya pada Yu Duo. “Oleskan sedikit kalau sakit.”
“Oh...”
Yu Duo menerimanya. Tube salep di telapak tangannya seakan masih menyisakan suhu dari telapak tangan Fu Sinian, membuat tangannya terasa perih.
Begitu Fu Sinian pulang, dia menghabiskan seharian penuh di ruang kerja, sibuk dengan urusan bisnis. Yu Duo pun senang saja.
Pukul sepuluh malam, Yu Duo diam-diam mendorong pintu ruang kerja. Ruangan itu temaram.
Kertas-kertas di atas meja berserakan. Fu Sinian menempelkan tangannya di dahi, bersandar di kursi. Alisnya berkerut dan matanya terpejam.
Gerakan Yu Duo membangunkan Fu Sinian. Dia membuka mata dan bertanya, “Ada apa?”
“Sudah jam sepuluh. Kapan kamu istirahat?”
“Jam sepuluh...” Fu Sinian mengusap dahinya. Matanya tampak lelah. Nada bicaranya tidak lagi sombong dan mendominasi seperti di siang hari. “Kamu tidur duluan.”
“Kamu sebaiknya istirahat lebih awal.”
Di malam yang larut, Yu Duo terbaring mengantuk di tempat tidur. Setengah sadar, setengah tertidur. Sesosok bayangan seolah menghampirinya, tetapi tak lama kemudian, bayangan itu pergi dari tepi tempat tidur.
Yu Duo membuka matanya dengan samar-samar dan menatap waktu dengan pandangan kosong.
Pukul setengah satu.
Lampu di ruang ganti menyala. Sepertinya itu Fu Sinian.
Dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke pintu ruang ganti.
Di dalam ruang ganti, Fu Sinian sedang melepas jaketnya dan membuka kancing bajunya satu per satu.
Fu Sinian bilang dia koma selama tiga bulan, tapi di mata Yu Duo, tidak ada perubahan pada tubuhnya. Otot-ototnya tetap kuat dan kokoh.
“Si...”
Melihat Fu Sinian yang sudah melepas kemejanya, kata-kata Yu Duo tercekat di mulutnya.
Karena dia melihat luka-luka dengan berbagai ukuran dan ketebalan di punggung Fu Sinian. Luka-luka itu mulai dari pinggang hingga tulang belikat. Bahkan ada bekas luka yang belum sembuh. Mereka dibalut perban putih, tetapi noda merah samar masih terlihat di atasnya.
Sakit rasanya saat orang lain melihatnya.
Fu Sinian menoleh dan melihat Yu Duo berdiri di pintu ruang ganti. Dia tertegun sejenak, lalu mengenakan kemejanya dan mengancingkannya. Dia berkata seolah tidak terjadi apa-apa, “Kenapa kamu belum tidur?”
Fu Sinian memiliki luka di sekujur tubuhnya. Yu Duo bisa melihatnya dengan jelas.
Ada yang dangkal, ada yang dalam. Ada yang pendek, ada yang panjang. Saat Fu Sinian berbalik, Yu Duo bisa melihat dadanya yang dipenuhi luka dengan berbagai ukuran.
Luka-luka ini cukup untuk menunjukkan betapa berbahayanya ledakan di kapal pesiar tiga bulan lalu.
Fu Sinian belum pulih sepenuhnya. Namun, dia tidak menunjukkan sedikit pun kelemahan atau cedera.
Mata Yu Duo tertunduk, menatap ujung jari kakinya, bukannya menatapnya. Dia berbisik, “Aku tidak bisa tidur.”
Fu Sinian mengancingkan kemejanya. “Kamu tidur duluan, aku segera menyusul.”
Yu Duo berbisik dan berbalik pergi.
Mendengar langkah kaki dan memastikan Yu Duo sudah pergi, Fu Sinian membuka kancing kemejanya dan melepasnya. Dia menatap luka di pinggangnya di cermin.
Itu adalah posisi yang sangat canggung dan tidak nyaman.
Perban kapas dan obat-obatan diletakkan di satu sisi. Dia mengambil perban kapas dengan satu tangan dan dengan susah payah mengoleskan obat ke luka yang terbuka ke luar.
Yu Duo kembali ke tempat tidur dan menatap cahaya yang keluar dari ruang ganti. Dia tidak tahu kenapa, tapi ada perasaan tertekan di hatinya. Dia mendefinisikan perasaan yang membuatnya tidak bisa tidur ini sebagai penderitaan.
Chapter Comments Chapter 75 · this chapter only
0 comments