Bab 14
"Apa yang terjadi dengan Yang Mulia?" teriak Gu Lanxi keras.
Dokter militer muda itu awalnya ketakutan, sekarang malah gemetar lebih hebat. "Yang Mulia... terjadi sesuatu yang buruk... Pangeran Kebajikan demam tinggi. Dia sedang kejang."
Tanpa berkata apa-apa, Ye Liuli meraih alkohol dan asam salisilat yang baru saja ia ekstrak, lalu bergegas menuju ke sana.
Banyak orang berlarian di istana, tapi hanya satu putri yang berlari terbirit-birit.
Ye Liuli tak sempat peduli soal penampilan; hanya ada satu kalimat di kepalanya... Jika Pangeran Kebajikan mati, dia juga bakal kena masalah!
Demi bisa hidup tenang dan sejahtera, ia harus menyelamatkannya, meskipun itu hanya akan menunda ajalnya.
Gu Lanxi melihat Ye Liuli berlari dan mengikutinya.
Terpandu oleh ingatannya, ia bergegas kembali ke halaman, "Jangan menghalangi!"
Teriakannya sangat menggentarkan. Bawahan di sekelilingnya meloncat ke samping secara naluriah dan memberi jalan.
Begitu masuk ke kamar, gelombang panas pekat bercampur bau ramuan obat langsung menerpa.
"Tahan Pangeran! Seseorang tahan Pangeran! Beri obat sekarang juga!" suara Dokter Liu hampir serak, ia terus meneriakkan itu.
Bawahan berantakan. Mereka sudah melihat banyak pasien, tapi pasien yang ada di depan mereka sekarang adalah seorang pangeran—bagaimana mungkin mereka tak panik? Untuk sesaat, walau Dokter Liu berteriak, tak ada yang berani maju membantu.
Ye Liuli langsung maju ke ranjang tanpa berkata apa-apa, "Mana mangkuk obatnya?"
Dokter Liu agak tertegun, lalu tanpa sadar menyerahkan mangkuk obat itu. Bukan karena statusnya sebagai putri, melainkan karena wibawa yang meyakinkan—Dokter Liu sendiri tak mengerti mengapa seorang gadis remaja bisa begitu meyakinkan.
Ye Liuli meletakkan mangkuk obat di meja, membuka sumbat botol keramik, dan menuangkan ramuan panas asam salisilat-paracetamol ke dalamnya. Tapi pas sedang akan menuang, sebuah keraguan menyergap... dosis!
Sialan, berapa dosis yang tepat?
Saat itu yang paling ia sesalkan adalah ketika dulu menyelamatkan pasien percobaan bunuh diri—kenapa ia tidak menyeret sang apoteker ikut melompat dari gedung, supaya bisa ikut melakukan perjalanan waktu bersamanya? Kalau ada apoteker di sini, ia tak akan begitu panik soal obat dan pusing memikirkan dosis.
Ah sudahlah, lakukan saja!
Berpikir demikian, Ye Liuli menutup mata dan menuangkan sedikit ke mangkuk—tetap saja tidak banyak.
Bukan karena takut membunuh Pangeran Kebajikan, tetapi karena memikirkan risiko korosi retina dan mukosa pernapasan dari asam salisilat serta proses ekstraksinya yang memakan seharian; botol kecil ramuan salisilat-paracetamol itu terlalu berharga untuk dipakai banyak.
Setelah menambahkan ramuan, ia mengaduknya cepat dengan sendok dan menyerahkannya ke Dokter Liu. "Aku yang tekan kakinya, kau beri obat sekarang juga!"
Dokter Liu masih linglung dan tanpa sadar menerima mangkuk itu.
Pasien? Maksudnya Pangeran? Kenapa sang putri bicara seperti dokter?
Seorang murid Dokter Liu menekan bagian atas tubuh Pangeran Kebajikan. Ye Liuli segera maju dan menekan kakinya dengan keras. "Masih tunggu apa? Beri obat sekarang juga!"
Barulah Dokter Liu tersadar dan mulai memberi obat.
Namun obat itu tak kunjung masuk, cairan ramuan mengalir dari sudut mulut Pangeran. Dokter Liu tetap terus memaksa memberi, membuat hati Ye Liuli perih.
Ya Tuhan, ini obat yang ia buat dengan susah payah dan mempertaruhkan kemungkinan cacat—dibiarkan terbuang sia-sia seperti ini?
Ye Liuli tak tahan lagi. "Dokter Liu, ke sini tekan kakinya! Aku yang akan memberinya obat!"
Dokter Liu terkejut. Butuh beberapa saat baginya untuk kembali tenang dan menyerahkan mangkuk obat.
Tanpa berkata apa-apa, Ye Liuli menunduk dan menuangkan ramuan itu ke dalam mulut Pangeran Kebajikan, lalu dengan satu tangan mencubit hidungnya, tangan lainnya menekan dagunya, dan menempelkan bibirnya pada bibir Pangeran Kebajikan.
Chapter Comments Chapter 14 · this chapter only
0 comments