Bab 27: Belanja Bahan Makanan
***
Beberapa saat kemudian, sore hari.
Film kedua baru saja selesai diputar. Liam mengangkat ponselnya untuk mengecek waktu, sambil mengingat bahwa Stacy dan teman-temannya akan datang ke rumahnya.
Pukul 3:16.
Mereka seharusnya tiba sebentar lagi, dan aku bahkan belum sempat memikirkan apa yang akan mereka makan.
Kalau dia mengundang mereka, berarti mereka adalah tamunya. Jadi tentu saja dia harus menjamu mereka. Artinya, dia harus memasak sendiri makanan yang akan mereka makan—tapi dapaknya sama sekali kosong dari bahan-bahan.
Jadi dia perlu pergi membeli bahan kebutuhan.
Ya, dia bisa saja memesan makanan. Tapi Liam merasa itu tidak pantas. Mereka datang ke rumahnya—jadi paling tidak, hidangannya selayaknya makanan rumahan. Akan berbeda kalau dia mengajak mereka keluar makan atau semacamnya.
Selain itu, dia ingin menunjukkan kemampuan **World-Class Culinary Arts**-nya.
Untuk belanja bahan, Liam sempat berpikir untuk memesan secara online lalu meminta barang dikirim ke tempatnya. Tapi dia memutuskan untuk tidak melakukannya.
Dia pun menjadikannya kesempatan untuk menghirup udara segar. Seharian dia terjebak di dalam rumah, benar-benar perlu menggerakkan kaki sedikit.
Ia meraih tablet kontrol, mematikan TV, menonaktifkan AC, lalu membuka tirai, membiarkan cahaya matahari membanjiri ruang seperti teater.
Setelah semua itu beres, Liam berdiri dari kursi malas, keluar dari home theatre, lalu melangkah menuju garasi.
Begitu masuk ke garasi, hal pertama yang langsung menarik perhatian Liam adalah kedatangan baru—**Rolls-Royce Ghost Black Badge**—yang terparkir dengan elegan di sana.
Sebagai orang yang sangat menyukai warna hitam, mobil itu tampak benar-benar menakjubkan.
Cat **obsidian black** yang pekat menyerap cahaya garasi lebih banyak daripada memantulkannya, membuat mobil itu terasa seperti kehadiran yang misterius, hampir seperti hampa. Berbeda dari kilau mencolok kebanyakan mobil mewah, mobil ini justru memiliki kilap matte yang halus namun tegas—membuatnya tetap tak mungkin diabaikan.
**Spirit of Ecstasy** di kap tidak berwarna perak—melainkan **gloss black**, seperti terselubung, senyap namun tetap berwibawa. Bahkan gril dan aksen—yang biasanya chrome-nya dipoles mengilap—turut dibuat lebih gelap, menjadi **ch
rome hitam** yang sleek dan konsisten dengan tema yang sama: rapi, mewah, dan terkurasi.
Silhuetnya yang panjang seperti diukir dari obsidian; setiap lekuk mengalir menyatu ke yang berikutnya. Roda **carbon alloy** berukuran 23 inci dibuat dengan tinted gloss black, menonjolkan kaliper rem berwarna merah tua yang seakan memberi isyarat ada keganasan di balik permukaan yang tenang.
Bahkan tanpa melihat bagian interiornya, Liam sudah paham kenapa merek ini begitu dipuji dan dicintai banyak orang.
Saat itu, yang paling ingin dia lakukan hanyalah mengajak mobil itu berputar sebentar. Tapi dia menahan diri. Dia akan pergi ke toko bahan makanan—apa dia akan berkendara naik Rolls-Royce ke sana? Mungkin tidak... kan?
Ya, dia bisa saja, tapi dia tidak ingin menarik perhatian yang tidak perlu. Jadi dia tidak akan melakukannya.
Rolls-Royce Ghost Black Badge kini menambah total mobil yang dia punya menjadi lima. Dan bahkan sampai sekarang, dia belum benar-benar mengendarai lebih dari setengahnya.
Liam tersenyum, lalu mengambil gantungan kunci **Maserati GranTurismo** dari **system inventory** dan menekan tombol unlock.
Ia membuka pintu, masuk ke kursi pengemudi, lalu menyalakan mesin. Seketika mobil itu meraung hidup. Liam mengarahkan mobil keluar dari garasi, melewati jalur masuk yang panjang, lalu menembus gerbang.
Ia melaju menyusuri jalan di Holmby Hills, menuju toko bahan makanan terdekat yang ditampilkan pada sistem GPS mobil.
***
Beberapa menit kemudian, Liam memarkir mobil di depan toko, lalu turun.
Ia menatap toko di hadapannya sambil menggeleng kecil, merasa lucu.
Ini memang toko bahan makanan—tapi hanya dari namanya.
Bangunannya berdiri di sudut lahan, struktur satu lantai yang luasnya bahkan mudah tiga kali ukuran supermarket biasa. Bagian luar dibuat minimalis dan modern, mengusung batu berwarna terang, panel kayu yang lembut, serta jendela vertikal lebar yang memanjang hampir dari lantai sampai atap. Satu logo matte-gold diletakkan di atas pintu masuk dengan tulisan kecil yang rapi dan berkelas: **Linden Market**.
Fasadnya yang rapi menyatu begitu mulus dengan lingkungan sekitarnya yang mewah.
Seorang valet beruniform di sisi pintu masuk menundukkan kepala hormat pada Liam, meski Liam tidak menggunakan layanan valet.
Liam tersenyum tipis, lalu berjalan menuju pintu kaca.
Pintu itu terbuka dengan mulus.
Begitu masuk, Liam langsung merasa—ruangan dalamnya lebih mirip butik mewah daripada toko bahan makanan.
Lantai dibuat dari marmer travertine berwarna pucat, dipoles hingga memantulkan kilau yang lembut. Musik instrumental mengalun pelan dari speaker plafon yang tersembunyi. Aroma bunga segar yang baru dipotong dan pembersih sitrus yang samar memenuhi udara. Pencahayannya redup dan hangat, seolah lebih fokus menciptakan suasana ketimbang sekadar terang.
Meja concierge—yang juga berfungsi sebagai konter—berada di sebelah kanan dekat pintu masuk. Seorang staf berpakaian rapi berdiri di belakangnya. Ia melirik Liam, memberi anggukan kecil, lalu kembali membantu seorang wanita yang mengenakan leisurewear desainer berwarna beige.
Liam memindai ruangannya.
Lorong-lorongnya lebar—lebih lebar dari kebanyakan ruang tamu—dan dipenuhi rak-rak yang tertata rapi berisi barang impor, merek artisan, serta hasil pertanian organik. Tata letaknya tidak berantakan; semuanya terlihat bersih, dengan desain yang disengaja.
Ia berjalan melewati pajangan buah segar yang disusun seperti karya seni—setiap apel, pir, dan delima ditata dengan cermat. Di sebelah kiri ada konter kaca untuk makanan yang sudah dipersiapkan sebelumnya, dengan staf yang memakai pakaian chef warna putih melayani hidangan kecil terkurasi seperti salad bebek panggang dan pasta truffle.
Kebanyakan pelanggan tidak terlihat terburu-buru. Ada yang mendorong kereta belanja dengan barang-barang menumpuk tinggi. Tapi kebanyakan lainnya membawa **handbasket** matte hitam dan bergerak perlahan memilih barang-barang seperti madu wildflower, bubuk matcha impor, dan roti artisan seharga **$40**.
Liam tidak bisa menahan senyum lagi.
Bahkan pengalaman belanja bahan makanan di sini pun terasa seperti bagian dari gaya hidup yang dikurasi.
Ia mengambil handbasket lalu masuk ke lorong, menelusuri rak dengan santai. Hampir tidak ada label harga pada kebanyakan barang. Entah seseorang tahu harganya, atau tidak terlalu peduli.
Liam tidak bisa menahan rasa terima kasih pada **system** atas skill **World-Class Etiquette**. Karena tanpa itu, dia akan benar-benar tersesat dan tidak akan mampu bersikap dengan benar di tempat seperti ini.
Ia tersenyum pada dirinya sendiri sekali lagi, lalu mulai memilih barang-barang yang ia butuhkan sambil bergerak tenang melewati lorong, memeriksa bagian-bagian yang tertata rapi.
Meski semuanya terlihat sangat bersih dan terkurasi, Liam sama sekali tidak merasa tidak nyaman. Posturnya rileks, langkahnya santai dan tidak terburu-buru. Skill **World-Class Etiquette** seakan membimbing setiap gerakannya secara halus—cara ia melirik barang, cara ia mengangkat dan memeriksa produk tanpa terlihat kikuk, cara ia menavigasi di antara pelanggan lain.
Skill itu memang benar-benar membentuk dirinya dan membantunya beradaptasi cepat dengan dunia yang tiba-tiba harus ia hadapi.
Ia mulai mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan dari beberapa bagian. Ia ingin membeli cukup bahan makanan untuk mengisi persediaan dapurnya selama beberapa hari, sekaligus untuk masakan yang akan ia buat bagi Stacy dan teman-temannya.
Ia sudah menentukan menu masakannya. Makanan utama: **herb-roasted chicken Thighs** dengan **saffron jasmine rice**. Hidangan pendamping: **heirloom tomato & avocado salad** dengan bal
samic glaze. Untuk penutup: es krim dengan potongan buah. Untuk minuman: **chilled citrus-mint mocktails**.
Kedengarannya sangat mewah dan mungkin sulit dimasak. Mewah, ya. Tapi sulit? Sama sekali tidak.
Liam punya **World-Class Culinary Arts skill**, jadi tidak ada hidangan yang sulit baginya untuk dibuat.
Ketika Liam selesai memilih semua yang ia butuhkan dan tiba di konter pembayaran, handbasket-nya sudah penuh—tapi tidak sampai berlebihan. Itu memang pilihan yang dikurasi, sama seperti segala sesuatu di dalam toko ini.
Kasirnya seorang wanita muda dengan seragam abu-abu pucat. Ia menyapanya dengan sopan seperti tadi.
“Selamat sore, Tuan. Semoga Tuan menemukan semuanya yang dicari.”
“Iya, terima kasih,” balas Liam, lalu meletakkan handbasket di atas konter.
Ia mulai memindai barang—satu per satu meluncur melintasi sensor dengan bunyi *beep* pelan. Harga tampil sebentar di layar, lalu menghilang.
Totalnya muncul di layar kecil di samping: **$684.32**.
Liam tidak menunjukkan ekspresi kaget saat ia mengeluarkan kartu dan menempelkannya ke terminal. Bunyi *beep* menandakan pembayaran berhasil, dan kasir itu menundukkan kepala sedikit.
“Apakah Tuan ingin bantuan untuk membawa belanjaan ini ke mobil?”
“Tidak perlu. Aku baik-baik saja,” jawab Liam tenang.
Bahan belanjaannya kemudian dimasukkan ke dalam tiga kantong belanja hitam matte yang bisa dipakai ulang, dengan logo **Linden Market** dicetak dalam huruf emas kecil. Bahannya terlihat kokoh dan dibuat dengan indah—kemungkinan harganya pun mahal.
Liam berterima kasih pada staf, mengambil kantong-kantongnya, lalu keluar melalui pintu kaca.
Di luar, cahaya matahari bergeser menjadi warna yang lebih lembut khas sore akhir. Maserati-nya berkilau di bawah cahaya itu, lekukannya yang gelap memantulkan pepohonan terawat yang mengelilingi toko.
Ia berjalan ke mobil, membuka bagasi, lalu menaruh kantong-kantong itu dengan hati-hati sebelum duduk kembali di kursi pengemudi.
Mesinnya ber
gemuruh rendah seperti *purring*.
Saat ia keluar dari tempat parkir dan mengarahkan mobil menuju gerbang keluar, Liam melirik toko sekali lagi lewat kaca spion.
“Belanja bahan makanan di sini rasanya seperti menonton fashion show,” gumamnya pada diri sendiri sambil tertawa kecil.
Perjalanan pulang berjalan tenang dan mulus. Jalan-jalan di Holmby Hills terlihat damai—lingkungannya tertata rapi, dan dijaga oleh patroli keamanan yang tidak mencolok.
Setiap rumah di sini adalah sebuah mansion dan memiliki ceritanya masing-masing, itulah yang memberi mereka prestise. Dan begitu juga dengan properti milik Liam.
Tak lama kemudian, gerbang depan **Bellemere Mansion** muncul di depan. Begitu ia mendekat, gerbang itu otomatis terbuka untuknya.
Ban mobil berderit pelan saat melewati jalan masuk, lalu Liam memarkir Maserati di samping Rolls-Royce.
Ia membuka bagasi, mengambil kantong belanja, lalu berjalan menuju pintu menuju bagian dalam rumah.
Saat ia sampai di dapur, jam menunjukkan pukul **3:40**.
“Mereka tiba dalam dua puluh menit lagi...” gumam Liam, menaruh kantong-kantong itu di atas meja dan bergerak cepat namun tetap rapi.
Ia memang kehabisan waktu, tapi ia merasa kemungkinan besar semuanya akan selesai sebelum mereka datang.
Ia membongkar bahan-bahan seperti koki profesional yang sedang bersiap untuk syuting acara TV. Pulau dapur menjadi panggungnya, dan bahan-bahan itu menjadi lawan mainnya.
Saatnya membuktikan pada mereka apa arti sebenarnya dari **World-Class Culinary Arts**.
Catatan Penulis: Kalian butuh foto-foto mobilnya?
Chapter Comments Chapter 27 · this chapter only
0 comments