Bab 3: Kompleks Perumahan Blue Valley
Blue Valley Complex, Palm Ville Estate.
Sebuah Maserati GranTurismo berwarna merah berhenti perlahan di depan kompleks itu.
Di dalam mobil, senyum lebar dan cerah terlihat jelas di wajah Liam.
Perjalanan dari lingkungan lamanya ke tempat ini terasa sangat menyenangkan. Bahkan dengan kondisi jalan yang mengerikan—benjolan yang terus-menerus—dia bahkan tidak merasakan apa pun.
Rasanya seperti dia sedang terbang.
Namun Liam tahu, ada satu hal lagi yang patut ia syukuri: Pro-level Driving Skill miliknya. Karena kalau tidak, kemungkinan besar dia sudah merusak mobil itu sejak lama.
Liam mematikan mesin mobil, lalu mengeluarkan dokumen apartemen dari inventory sistem.
Dokumen itu muncul di pangkuannya, dan hal pertama yang dia lihat adalah sebuah kartu kunci hitam dengan garis-garis emas.
Liam mengambil kartu itu dan memeriksanya. Dia merasa garis emas pada kartu tersebut benar-benar emas sungguhan, dan karena bahan kartu itu terasa spesial, ia juga bisa merasakan kesan kelas atas dari cara kartu itu “hadir” di tangannya.
Setelah beberapa detik meneliti kartu tersebut, Liam berhenti. Bukan karena tidak ada apa pun—lebih tepatnya, dia benar-benar tidak tahu dia harus mencari apa, atau bagaimana cara mencarinya.
“"Aku mending jangan sampai bikin otakku meledak," gumam sambil tersenyum. Lalu ia mengambil dokumen dari pangkuannya, membuka pintu, dan melangkah keluar dari mobil.,” gumam sambil tersenyum. Lalu ia mengambil dokumen dari pangkuannya, membuka pintu, dan melangkah keluar dari mobil.
Begitu keluar, Liam mengangkat kepala dan melihat sekelilingnya. Seketika rahangnya sedikit menganga, kaget.
Di mana pun pandangannya tertuju, yang terlihat hanya mobil-mobil mewah. Semua merek ada di sini—Mercedes, Maybach, Rolls Royce, Lamborghini…
Melihat semua mobil itu membuat Liam merasa seolah-olah dia telah melangkah ke surga—surga yang mahal.
Bukan cuma mobilnya. Udara yang dia hirup sekarang pun bersih, segar, dan sama sekali bebas dari bau menyengat.
Dia menoleh ke sana-sini dan tidak melihat sedikit pun bentuk kotoran. Bahkan area garasi terbuka tempat dia berdiri pun selalu dirawat dengan teliti.
Lalu ada beberapa kompleks besar yang indah mengelilinginya, dan Liam benar-benar tidak bisa berkata-kata.
Baru saat itulah dia akhirnya mengerti mengapa security guards menahannya di gerbang estate.
Hanya dari melihat mobil-mobil itu saja, dia sudah tahu semua hal yang perlu diketahui.
Liam menghela napas, tersenyum, lalu menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam bangunan.
Di dalam, dia berjalan menuju lift eksklusif yang diperuntukkan bagi kondominium miliknya.
Ya, kondominium itu punya lift eksklusif sendiri. Itu salah satu keuntungan yang datang bersama apartemen kondominium.
Liam sudah berada di depan lift. Dia hendak menggunakan kartu kunci untuk membukanya, ketika lift umum terbuka lebih dulu dan seseorang keluar dari sana.
"Hei, lift itu bukan untuk umum. Pakai yang ini," kata suara perempuan.
Liam menoleh untuk melihat siapa pemilik suara itu, dan dia terkejut saat menyadari orang tersebut.
Stacy?
Stacy adalah teman sekelas lama Liam. Mereka sekolah bersama dari SMP sampai SMA, sebelum Liam berhenti sekolah di awal tahun keduanya.
Meski begitu, mereka tidak terlalu saling mengenal. Sebab waktu itu mereka hidup di dunia yang benar-benar berbeda.
Stacy berasal dari keluarga kaya, sedangkan Liam dari keluarga yang kesulitan. Selain itu, Stacy adalah anak sekolah yang pintar, berbakat, cantik, dan populer—sementara Liam anak sekolah yang bodoh dan pendiam.
“Hai, kamu tidak dengar yang aku bilang tadi?” Stacy bertanya, suaranya membuat Liam kembali dari lamunannya.
“Aku dengar. Makasih,” jawab Liam. Lalu ia berbalik dan menuju lift pribadinya.
Liam melihat bahwa Stacy tidak mengenalinya. Bukan seperti Liam berharap Stacy akan mengenalinya, apalagi karena di sekolah Liam selalu terasa seperti orang yang tidak terlihat.
Stacy menggeleng saat melihat kurir itu tidak akan mendengarnya. Dia menganggapnya bukan masalahnya lagi, lalu pergi.
“Orang-orang sekarang. Tsk. Kamu bilang baik-baik, tapi mereka malah bikin seolah-olah kamu lagi merendahkan mereka,” kata Stacy kesal sambil mendecak.
Baru saja Stacy selesai berbicara, dia membeku saat mendengar suara lift yang tidak ia kenal.
Dia langsung menoleh tajam—dan ia melihat lift pribadi yang sudah lama tak pernah terbuka, akhirnya terbuka.
Mata Stacy membesar. Dengan tatapan bingung, ia melihat pemuda yang tampak seusianya.
Tatapannya menyapu tubuh pemuda itu, mencoba mencari tahu apa yang telah ia lewatkan, dan saat itulah dia melihatnya.
“Ka-Kartu itu?!” Stacy berbisik kaget.
Dia sempat berpikir dia salah lihat, jadi dia menatap lagi—lebih teliti.
“Ini beneran… tapi gimana?” tanyanya dalam hati, masih terkejut.
Karena Stacy sudah tinggal di estate dan kompleks tertentu ini lebih dari satu tahun, dia tahu kartu itu apa dan artinya apa.
Namun yang tidak bisa dia pahami adalah mengapa seseorang yang wajahnya terlihat seperti kurir memegang kartu tersebut. Lalu ada juga dokumen yang dibawa orang itu.
Apakah dia membelinya? Tapi bagaimana bisa?
Stacy merasa ada yang tidak beres, jadi dia memutuskan untuk bertanya langsung pada orang misterius itu.
“Hai! Aku mau ngomong sama kamu!” serunya, lalu ia berlari ke pintu lift yang hampir menutup.
Sayangnya bagi Stacy, orang misterius itu bahkan tidak berusaha menahan pintu yang menutup, melainkan hanya menonton dengan santai saat Stacy berlari ke sana.
Sementara itu, di dalam lift, Liam tersenyum lebar. Di kepalanya dipenuhi antisipasi untuk melihat apartemen barunya.
Dia merasa apartemen itu pasti istimewa karena punya lift eksklusif. Tapi dia sama sekali tidak tahu apa bedanya apartemennya dengan yang lain. Dan karena itu, dia penasaran—ia merasa semuanya berhubungan dengan alasan mengapa dia mendapat lift pribadi.
Dia sempat menebak-nebak. Mungkin karena apartemennya ada di lantai paling atas. Tapi dia tidak yakin.
Sedangkan untuk tindakan Stacy, Liam sama sekali tidak memberi kesempatan pada hal itu untuk mampir di pikirannya.
***
Beberapa menit kemudian, lift berhenti, dan pintunya bergeser terbuka.
Liam terkejut saat pintu itu sepenuhnya terbuka.
Di hadapannya terbentang lorong panjang yang kosong. Di ujung lorong itu ada sepasang pintu besar ganda. Namun itu bukan bagian yang paling mengejutkan.
Yang paling mengejutkan adalah kenyataan bahwa ini bukan sekadar kondominium biasa—melainkan sebuah penthouse!
Fakta bahwa apartemennya berada di lantai paling atas seharusnya sudah memberi tahu dia, tapi Liam tidak sempat memikirkan sejauh itu.
Selain itu, dia juga belum membaca dokumen kepemilikan yang ada di tangannya.
Atau lebih tepatnya, dia tidak ingin memikirkannya. Dia merasa itu akan terlalu nekat untuk mengasumsikan. Bahkan sekarang pun, masih ada pikiran di kepalanya bahwa ini bukan penthouse.
Liam menahan emosinya, lalu melangkah keluar dari lift dan berjalan menyusuri lorong.
Seiring ia berjalan, keyakinannya bahwa tempat ini adalah penthouse semakin menguat.
Dinding kaca yang memungkinkannya melihat kota di kedua sisi, serta langit-langit lorong yang dipenuhi lampu gantung mahal.
Detak jantung Liam makin cepat saat ia pelan-pelan menyadari sesuatu. Ia mengembuskan napas dalam, lalu akhirnya sampai di depan pintu.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Liam menempelkan kartu kunci ke pembaca kartu. Terdengar bunyi bip, lalu klik—pintu tersebut terbuka.
Liam mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Dia menutup mata, menarik napas dalam, lalu menghembuskan napas pelan.
Matanya langsung terbuka. Dengan senyum, dia memutar gagang pintu dan perlahan membuka pintu itu.
Pemandangan yang tersaji di depan mata Liam begitu megah hingga membuatnya tercekat.
“Ini beneran penthouse…” gumam Liam pelan saat melangkah masuk.
Dia melepas sepatunya dan berjalan menuju area ruang tamu, lalu kembali tidak bisa berkata-kata.
Ada bantalan kursi yang besar, nyaman, dan terlihat mahal, dihiasi pinggiran emas. Meja kaca di bagian samping dan tengah yang indah, juga dengan hiasan yang rapi. Ada karya seni yang memukau di dinding. Vas-vas yang tampak seperti diimpor dari zaman kuno. Dan lantai yang memantulkan dirinya dengan jelas seperti cermin.
Semua yang mengelilinginya—mulai dari langit-langit, lukisan di dinding, bahkan lantainya—semuanya berteriak “kemewahan”.
Liam tersenyum, lalu berbalik. Ketika ia melihat ke arah dinding, dia justru terkejut lagi: ada TV 4K QLED berukuran 115 inci di sana.
“Ini beneran surga,” katanya sambil tersenyum cerah.
Chapter Comments Chapter 3 · this chapter only
0 comments