Bab 42: Hadiah yang Datang Bersama Misteri
Setelah mandi pagi, Liam mengenakan polo arang yang rapi dan celana panjang model jahitan. Pakaian itu pas sempurna di tubuhnya—bukan hanya karena potongannya, melainkan karena fisik barunya seakan membuat apa pun terlihat seperti dibuat khusus untuknya.
Saat ia mengancingkan kancing terakhir, pantulannya di cermin sempat membuatnya berhenti sesaat. Hanya setengah detik—hampir seperti ada rasa lucu yang samar di sana.
“Wow!” gumamnya pada diri sendiri, lalu ia meninggalkan kamarnya.
Begitu melangkah ke area bawah rumah, aroma samar roti panggang baru dan kopi sudah lebih dulu menyapanya sebelum ia bahkan masuk ruang makan.
Udara terasa lebih sejuk di kulitnya daripada yang ia ingat—pengingat lain bahwa peningkatan itu telah menyetel inderanya melewati batas apa pun yang normal.
Evelyn dan para pelayan lainnya sudah berada di posisi masing-masing. Begitu Liam masuk, mereka meluruskan postur secara halus.
“Selamat pagi, Tuan Liam,” kata Evelyn dengan gaya yang selalu anggun.
Liam mengangguk sopan. “Pagi.”
“Sarapan sudah siap, tuan.”
Ia berjalan menuju meja makan panjang yang mengilap, dan saat duduk, terdengar bunyi sendal kursi yang lembut berderit. Para pelayan bergerak dengan koordinasi yang mulus, menaruh hidangan di hadapannya.
Menu hari ini tidak berlebihan—tidak seperti tumpukan piring menjulang yang ada saat pesta semalam. Ini sarapan yang masuk akal dan terasa lebih matang: croissant segar, telur orak-arik dengan daun kucai, salmon asap, bayam tumis, serta semangkuk kecil buah.
Liam langsung menyadari porsi itu, dan senyumnya mengembang tipis. Mereka sedang menguji.
Begitu ia mengangkat garpunya dan mengambil suapan pertama, perbedaannya terasa jelas. Ia tidak menelan makanan dengan rakus seperti malam sebelumnya. Tidak ada lagi rasa lapar yang menggerogoti di dalam dadanya. Sebaliknya, ia makan dengan tempo tenang, membiarkan setiap rasa terbuka perlahan di lidahnya.
Dan rasanya… ya Tuhan, rasanya.
Mungkin peningkatannya. Mungkin juga *World-Class Culinary Arts*—keterampilan kelas dunia yang diberikan sistem padanya. Mungkin keduanya. Tapi tiap gigitan bukan sekadar makanan—itu seperti pembongkaran sensori secara mendetail.
Kalau bukan karena peningkatannya, otaknya akan kewalahan oleh semua informasi sensori yang terus membanjir masuk.
Telurnya lembut dan creamy, daun kucai melepaskan aroma tajam yang samar begitu giginya menembusnya. Lapisan croissant terurai dengan perbandingan yang sempurna antara renyah dan lembut. Salmon membawa aroma asap tipis seperti applewood, dan di benaknya ia bisa melihat seluruh proses memasak—mulai dari proses pengawetan, waktu pengasapan yang presisi, hingga penyajian akhir.
Ini bukan hanya soal makan. Ini seperti menonton seluruh sejarah sebuah hidangan terbentang dari kompor hingga piring—dengan kejernihan yang sempurna.
Dari sudut matanya, Liam menangkap Evelyn dan dua pelayan lain, Clara dan Mira, saling bertukar tatapan sesekali saat mereka bergerak di sekitar ruangan. Gerak mereka sangat halus, tapi indera Liam yang sudah ditingkatkan berhasil menangkapnya.
Mereka jelas mengira ia akan melewatkan sarapan setelah pesta semalam. Enam porsi penuh saat itu sudah cukup membuat mereka terdiam. Dan kemungkinan besar mereka menyimpulkan selera makannya akan butuh jeda.
Faktanya Liam ada di sini—makan lagi—dan melakukannya dengan ketenangan yang terukur seperti ini, membuat mereka makin bingung.
Mereka mungkin juga merasa lega. Menyiapkan pesta seperti semalam setiap hari jelas bukan bagian dari rencana awal mereka.
Sementara mereka diam-diam berusaha memahami Liam, pikiran Liam justru berada di tempat lain.
Ia memikirkan hadiahnya.
Tepatnya, dua hadiah baru dari hari ini.
Ini pertama kalinya sejak ia menerima sistem, ia mendapatkan sesuatu yang seperti ini—di luar mobil, properti, peningkatan atribut, keterampilan, atau *shares*. Hadiah kedua… bahkan berada di level yang sama sekali berbeda.
*Winter’s Heart.*
Kalau sistem tidak menyuntikkan informasinya langsung ke kepalanya, Liam bahkan tidak akan tahu apa itu telur Fabergé. Di kehidupan lamanya, “kemewahan” yang ia kenal hanya sebatas melihat jam Rolex KW di lapak pinggir jalan dan mendengar soal lelang seni di berita secara sepintas.
Sekarang? Ia mengerti persis apa yang Fabergé wakili.
Telur permata berhiaskan emas yang dibuat pada masa keemasan Kekaisaran Rusia oleh House of Fabergé. Hanya kurang dari tujuh puluh yang pernah dibuat, dan masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Kebanyakan sudah dikunci di museum atau koleksi pribadi. Harga mereka terus naik ke langit setiap kali muncul dalam lelang.
Tapi *Winter’s Heart* bukan sekadar telur langka lainnya. Itu—monster.
Dua ribu empat ratus berlian putih yang sempurna. Dua berlian biru berbentuk buah pir—masing-masing 15 karat. Satu berlian biru sempurna 17 karat yang dipasang di mahkotanya, dan satu ruby “pigeon-blood” tiga karat yang berkilau seperti setetes api beku.
Bahkan tanpa jadi ahli, Liam tahu bahwa berlian biru termasuk yang paling langka di Bumi. Pada 2022, Sotheby’s menjual sebuah berlian biru 15 karat seharga 57,5 juta dolar. Dan *Winter’s Heart* memilikinya tiga sekaligus.
Kalau cuma berlian birunya saja, nilai itu sudah bisa mendorong angka menuju 200 juta dolar. Ruby-nya, karena kualitasnya dan prestise tempatnya dipasang, tentu akan menambah jauh lebih banyak.
Sistem menilai nilainya sebesar 40 juta dolar—dan Liam hampir tertawa. Harga itu bukan sekadar rendah; itu tidak masuk akal. Kecuali sistem dengan sengaja meremehkannya demi alasan tertentu, angka sebenarnya sudah pasti jauh, jauh lebih tinggi.
Dan itu baru telurnya saja.
Hadiah ketiga adalah berlian biru ultra-langka yang tidak bercacat, dengan berat 17,6 karat. Murni, bening, dan sempurna. Menurut perkiraan konservatif, nilainya setidaknya 70 juta dolar.
Ia menghitung cepat di kepala.
Hadiah hari ini—mulai dari saham JP Morgan sebesar 0,02%, telur Fabergé, hingga berlian—dengan mudah mendekati setengah miliar dolar bila dijumlahkan.
Setengah. Satu. Miliar.
Ini sudah benar-benar keterlaluan.
Tapi uang bukan satu-satunya hal yang memenuhi pikirannya. Karena tersembunyi di dalam *Winter’s Heart* ada sesuatu lagi—sesuatu yang disebut sistem dengan baik hati dalam catatan kecil yang tampak asal.
Sebuah kunci.
Lebih spesifik lagi, kunci untuk *safe deposit box*.
Apa yang ada di dalamnya? Sistem tidak memberitahukan. Artinya Liam harus mencari tahu sendiri.
Pikirannya membuat bibirnya membentuk senyum kecil. Ia memang selalu suka misteri yang menyimpan hadiah di akhir.
Ia ingin menebak apa yang mungkin ia temukan di dalam kotak deposito itu, tetapi ia tidak bisa. Namun satu hal yang ia tahu berdasarkan cara sistem melakukan sesuatu adalah bahwa ia akan mendapat kejutan terbesar dalam hidupnya.
Ia menghabiskan sarapannya sampai tuntas dan meletakkan garpu.
Evelyn melangkah maju, seolah siap menanyakan apakah ia ingin tambah, tapi Liam berbicara lebih dulu.
“Saya akan berada di kamar saya sepanjang hari. Jangan ganggu saya kecuali jika saya memanggil.”
Evelyn menundukkan kepala. “Baik, tuan.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Liam meninggalkan ruang makan dan naik ke atas. Langkahnya tidak terburu-buru; keyakinan tenang dalam gerakannya hampir bertentangan dengan badai rencana yang sudah terbentuk di benaknya.
Begitu masuk kamar, ia menutup pintu di belakangnya dan mengunci. Bunyi *klik* yang tenang itu terasa seperti mengunci dirinya ke dunia yang benar-benar berbeda.
Ia berjalan ke ranjang, duduk, lalu bersandar sedikit, memandang ke langit-langit yang tinggi sejenak.
Paket pengetahuan.
Itulah yang ia tunggu-tunggu.
Ia menahannya sampai sekarang karena satu alasan—ia tidak ingin mengambil risiko membuat pikirannya kewalahan sebelum tubuhnya siap. Tapi sekarang, dengan *Molecular Enhancement Nanites* yang beroperasi di sistemnya, tidak ada lagi alasan untuk menunggu.
*Omni-Science Foundation Package.*
Jika deskripsi sistem bisa dipercaya, paket ini akan memberinya penguasaan instan atas setiap disiplin ilmu utama—fisika, kimia, biologi, matematika—serta semua subbidang lanjutan di dalamnya. Bukan cuma membuatnya lebih pintar. Ini akan membuatnya menjadi orang paling cerdas yang pernah hidup dalam hal kemampuan sains mentah.
Jenis pengetahuan yang bisa membuatnya mendesain *warp drives* saat tidur, membangun reaktor fusi dari barang bekas, atau menulis ulang kode genetik sembari sarapan.
Jari-jari Liam mengetuk pelan di atas kasur. Besarnya potensi yang akan ia lakukan membuat denyut nadinya sedikit lebih cepat.
Telur Fabergé seharga ratusan juta. Berlian yang sempurna. Satu lagi *JP Morgan shares* yang tak bercacat. Semuanya luar biasa—ya, tapi itu semua hanyalah alat. Kekayaan bisa membeli pengaruh, aset, perlindungan.
Pengetahuan bisa membangun kerajaan.
Dengan pikiran itu, Liam memanggil layar statusnya.
Chapter Comments Chapter 42 · this chapter only
0 comments