Back to detail
Sistem Absensi Terakhirku Membuatku Tak Terkalahkan
Chapter 46 of 50

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 465 min read1.047 words

Bab 46: Ketidaktahuan Itu Kenikmatan

Setelah Liam menyelesaikan suapan terakhir sarapannya, ia meletakkan garpunya dengan rapi di atas piring.

Evelyn melangkah maju seolah hendak bertanya apakah ia ingin sesuatu lagi, tapi Liam hanya menanggapinya dengan anggukan sopan sebelum berjalan menuju pintu depan.

Di sana, di dekat pintu, sudah menunggu Mason—kepala tim pengamanannya. Keberadaan pria itu terasa kokoh, hampir seperti suasana militer; bahunya tegap, matanya tajam, dan setelan jasnya rapi tanpa satu kerutan pun.

Saat Liam masih makan, ia sempat menerima telepon dari Kapten Harris, pilot helikopter. Nada Harris tegas dan profesional, menyampaikan bahwa Sikorsky sudah siaga di Granworth Executive Tower—lapangan helipad terdekat di kota tempat helikopter pribadi diizinkan mendarat.

Begitu panggilan berakhir, Liam langsung memanggil Mason.

“Siapkan Ghost,” katanya singkat. “Kita berangkat sekarang.”

Dan sekarang, waktunya untuk pergi.

Mason berjalan selangkah di belakang saat Liam menyeberangi lobi rumahnya yang berlantai marmer. Di luar, Rolls-Royce Ghost Black Badge yang telah menunggu memantulkan kilau di bawah cahaya pagi. Cat obsidiannya yang mengilap dan aksen chrome gelap tampak lebih seperti sebuah pernyataan daripada sekadar mobil.

Sang pengemudi—penjaga keamanan kedua—sudah berada di balik kemudi.

Mason membuka pintu belakang untuk Liam, lalu Liam masuk ke kursi belakang, sedangkan Mason mengambil kursi penumpang di bagian depan.

Kabinnya dipenuhi nuansa elegan: kulit berwarna gelap yang dalam, dengan trim serat karbon yang kaya. Ada juga aroma samar kayu cedarwood dari detail khusus buatan yang masih tertinggal.

“Granworth,” kata Liam, bersandar.

“Ya, Tuan,” balas pengemudi dengan lancar, lalu mengarahkan mobil keluar dari jalan panjang rumah itu dan bergabung ke jalan utama.

Saat pemandangan berlalu, Liam membiarkan pikirannya melayang pada hari yang akan datang. Perjalanan helikopter akan singkat—cukup untuk menikmati garis langit sebelum meluncur ke arah marina. Namun yang benar-benar membuatnya menantikan jam-jam ke depan adalah perjalanan dengan yacht.

Mia belum meninggalkan tambatannya sejak ia mendapatkannya. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia akan berlayar di bawah perintahnya.

Tentu saja ia tidak akan pergi sendirian. Stacy, Kristopher, dan beberapa orang lainnya akan ada di sana. Kelompok kecil—cukup intim agar suasananya nyaman, tapi tetap punya energi untuk membuat hari ini terasa hidup.

Itu rencana di permukaan. Bagian menyenangkan.

Di balik itu, ada niat yang lebih tenang—kemunculan perdana Winter’s Heart.

Ia belum pernah mengeluarkan telur Fabergé itu dari inventory-nya, sejak sistem memberikannya. Dan ia tak berniat menampilkannya dengan santai. Tapi perjalanan yacht menawarkan panggung yang sempurna: suasana kemewahan yang santai, audiens yang tepat, dan kesempatan untuk merangkul identitas yang orang-orang lain bahkan sudah membayangkannya.

Ia tidak begitu suka ketika orang-orang menganggap dirinya berasal dari keluarga lama yang berakar kuat dalam kekayaan. Dalam jangka panjang, ia ingin namanya berdiri dengan kemampuannya sendiri. Tapi untuk saat ini—biarkan mereka berpikir apa pun yang ingin mereka pikirkan. Salah paham itu bisa jadi berguna.

Dan ia tak bisa mengusir perasaan bahwa sistem sengaja memberi makan hal itu. Hadiah beruntun berupa share JP Morgan, artefak-artefak yang tak ternilai, arloji heritage yang ia dapatkan pagi ini—semuanya mendorongnya ke sebuah citra tertentu.

Kenapa?

Ia tidak tahu.

Ia bahkan tak bisa menahan rasa ingin tahu tentang siapa atau apa sebenarnya sistem itu. Namun ia bisa terus bertanya-tanya tanpa henti, dan tetap saja—pada akhirnya ia tidak benar-benar penasaran.

Pepatah lama terasa pas untuk situasi ini: ketidaktahuan adalah kebahagiaan. Kadang, tidak mengetahui adalah pilihan paling aman.

Tapi Winter’s Heart punya lapisan lain selain prestisenya—kunci tersembunyi yang ada di dalamnya.

Hanya saja, itu bukan sesuatu yang akan ia tunjukkan pada siapa pun. Kuncinya terlalu berharga untuk dipajang di depan orang lain. Nanti ia akan memeriksanya secara pribadi untuk melihat apakah ia bisa mengekstrak informasi lebih banyak.

Lokasi safe deposit box yang dibukanya. Mungkin bahkan petunjuk tentang isinya.

Pikiran tentang kunci itu membuatnya berhenti sejenak, karena ia jadi penasaran pada sesuatu.

“System, bisa nggak aku masukkan kembali item ke inventory setelah aku mengeluarkannya?” tanya Liam. “Lalu bagaimana dengan objek lain—yang awalnya bukan berasal dari kamu?”

[Ya, Host. Objek apa pun yang tidak bernyawa bisa disimpan di inventory.]

“Bagaimana batas ukurannya?”

[Inventory tidak terbatas kapasitas maupun ukurannya. Satu-satunya batasan adalah objek harus diangkat secara fisik dari tanah sebelum disimpan—objek itu ada dalam kepemilikanmu, bukan menempel tetap di tempatnya.]

Liam mengangguk pelan. Itu sempurna. Ia bisa menampilkan telur Fabergé itu di mansion nanti sebagai efek—untuk pamer—tapi tetap menyimpan kuncinya dengan aman di dalam inventory, di tempat yang tak bisa disentuh siapa pun.

Setelah itu beres, ia membiarkan pertanyaan itu pergi dan kembali fokus pada pemandangan yang terus bergeser.

Jalanan dengan Ghost terasa mulus. Suspensinya menyerap ketidaksempurnaan aspal. Di luar, pusat kota mulai terangkat di sekitar mereka. Menara-menara kaca memantulkan cahaya matahari, sementara dengung kendaraan semakin padat.

Lima belas menit kemudian, mobil itu masuk ke ramp pribadi yang mengarah ke VIP garage Granworth Executive Tower.

Di sini udaranya lebih sejuk, dan suara kota meredup menjadi dengung jauh. Dinding-dindingnya berkilau dengan baja yang dipoles dan pencahayaan yang lembut.

Pengemudi menahan Ghost dengan pelan di samping area akses lift. Mason turun lebih dulu, lalu mengelilingi mobil untuk membuka pintu Liam.

Liam keluar, merapikan bagian depan blazer-nya, arloji platinum yang ia kenakan menangkap cahaya hingga memantulkan kilau.

Mason dan penjaga keamanan kedua, Nick, menyamakan langkahnya saat mereka berjalan menuju ujung garage. Di sana, seorang penjaga keamanan berseragam menunggu di depan pintu akses berat yang dilengkapi kartu.

Penjaga itu langsung berdiri tegap, memindai kartu akses mereka tanpa sepatah kata pun. Di baliknya ada lift pribadi, dindingnya dilapisi kayu walnut gelap dengan aksen kuningan yang disikat.

Perjalanan menuju atap singkat, tapi senyap. Liam tetap memasukkan tangannya ke saku, tatapannya tertuju pada angka-angka yang terus naik di panel. Mason dan Nick berdiri tepat di belakangnya, diam dan siaga.

Dengan nada bunyi yang pelan, pintu lift terbuka.

Di depan membentang lorong pendek yang tertutup, dengan jendela lebar yang menawarkan pemandangan luas ke arah skyline. Udara di sini lebih segar, membawa aroma tipis bahan bakar pesawat dan udara terbuka.

Di ujung lorong, pintu ganda membelah langsung menuju rooftop helipad.

Liam melangkah keluar, disambut sinar matahari pagi yang menyapu dirinya.

Dan di sanalah—Sikorsky S-92, berkilau dengan warna navy tua dan perak. Rotor-rotornya berputar pelan, teratur, seolah menunggu perintah. Keberadaan helikopter itu terasa mengesankan, tapi tetap elegan.

Kapten Harris berdiri di sampingnya, mengenakan flight suit yang dibuat pas, helmnya terselip di bawah lengannya. Ia melihat Liam, lalu melangkah maju dan memberi anggukan hormat.

“Selamat pagi, Tuan Liam. Helikopternya sudah siap berangkat.”

Tatapan Liam menyapu helikopter itu, memperhatikan kaca yang dipoles dan garis-garis aerodinamisnya.

Ia tersenyum tipis, lalu menyesuaikan manset.

“Ayo pergi.”

— End of Chapter 46
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 46 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 46. Please respect spoilers from other chapters.
Sistem Absensi Terakhirku Membuatku Tak Terkalahkan — Chapter 46 — Novtoon