Back to detail
Sistem Absensi Terakhirku Membuatku Tak Terkalahkan
Chapter 6 of 50

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 064 min read953 words

Bab 6: Peningkatan Sistem?

Nada lembut dari lift memudar di belakangnya saat Liam melangkah keluar dari lift penthouse menuju lobi.

Cahaya matahari menyusup lewat fasad kaca, membuat lantai marmer berkilau dengan guratan-guratan keemasan.

Ia mengabaikan Stacy. Sambil menyesuaikan daftar belanja yang ia pegang, Liam berjalan menuju pintu masuk—namun baru beberapa langkah, ia sudah mendengar suara Stacy dari belakang.

“Hey, umm… maaf soal kemarin.”

Liam berhenti.

Stacy berdiri beberapa langkah di belakang, posturnya terlihat ragu-ragu. Tatapannya sempat melirik lantai sejenak, lalu kembali menatap Liam. Ia mengembang­kan senyum kecil yang hangat dan penuh permintaan maaf.

“Aku nggak bermaksud hal-hal yang aku bilang kemarin itu terdengar buruk,” lanjutnya. “Aku cuma berusaha membantu. Kupikir kamu… kamu tahu, orang yang tersesat—atau… ya, pokoknya aku nggak bermaksud terdengar kasar.”

Liam mengedip, sedikit terkejut.

Ia sempat mengira Stacy akan melontarkan komentar sarkastik, atau setidaknya meneruskan sikap sok berhak seperti hari sebelumnya. Tapi permintaan maaf? Itu benar-benar di luar dugaan.

Namun, Liam tidak merasakan sisa rasa kesal yang mengganjal.

“Gapapa,” jawabnya dengan senyum tipis, lalu melanjutkan langkah menuju pintu keluar.

Tapi sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, Stacy berlari kecil—langkah tergesa-gesa menyusul di belakangnya.

“Tunggu!”

Liam menoleh, mengangkat alis.

Stacy berdiri di sana, ponsel di tangan. Ia berusaha menjaga ekspresi yang sopan dan santai, tetapi Liam bisa melihat rasa ingin tahu menggelegak di balik mata Stacy.

“Nama aku Stacy,” katanya, seraya merapikan sehelai rambut yang tergerai di belakang telinganya. “Aku tinggal di lantai tujuh. Kalau kamu nggak keberatan, aku mau minta nomor kamu. Soalnya… kalau suatu saat aku butuh bantuan, atau kalau kita ketemu lagi. Mungkin kita bisa saling kenal lebih baik?”

Stacy mengulurkan ponselnya ke arah Liam.

Liam tidak langsung menjawab. Ia menatap Stacy sebentar—cukup lama sampai Stacy sedikit bergeser menahan beratnya diam tersebut. Setelah itu, Liam mengambil ponsel dari tangan Stacy.

“Baik,” jawab Liam singkat.

Ia mengetik nomor Stacy ke kontaknya, lalu mengembalikan perangkat itu.

“Ada yang lain?” tanya Liam, nadanya tetap datar dan tenang.

Stacy berkedip. “Tidak. Makasih.”

Ia tersenyum kecil—kali ini kurang percaya diri—lalu berjalan kembali menuju lift. Hak sepatu Stacy terdengar *klik* pelan di atas lantai yang mengilap.

Liam menatapnya pergi.

Ia tahu persis alasan Stacy ingin nomor itu. Stacy tidak melakukannya dengan cara yang genit—setidaknya tidak sepenuhnya. Ia penasaran. Ingin tahu.

Penthouse itu kosong untuk waktu yang lama—sampai sekarang. Dan sekarang, ada seorang pria dengan pakaian yang terlihat lusuh tiba-tiba punya akses lift eksklusif, bahkan mengendarai Maserati mewah?

Stacy ingin tahu identitas orang yang tinggal di penthouse itu… dan Liam berniat menuruti rasa ingin tahunya.

Liam tersenyum tipis saat ia keluar dari kompleks.

***

Perjalanan menuju toko bahan makanan kelas atas terdekat hanya memakan waktu sepuluh menit. Liam memarkir mobil, mengambil troli, lalu masuk.

Interiornya bersih tanpa cela, musik lembut mengalun di latar, dan aroma roti baru serta kopi panggang masih tercium di udara. Tempat ini benar-benar berbeda dengan toko-toko anggaran tempat ia biasa belanja. Tidak ada antrean panjang, tidak ada udara apek, tidak ada lampu fluoresen yang menyilaukan.

Liam berjalan menyusuri lorong sambil memilih barang dengan santai. Mulai dari buah-buahan, sayur, produk susu, sampai rempah-rempah—bahkan minyak impor, daging pilihan, hingga sebotol anggur vintage yang ia ambil begitu saja karena ia bisa.

Ia membayar semuanya tanpa berkedip, meskipun totalnya menembus angka lebih dari $2.000. Kasir tersenyum profesional, tapi Liam bisa melihat jelas bahwa ia terkejut. Liam berpakaian kasual dan tidak terlihat seperti orang yang akan menghabiskan sebanyak itu untuk belanja kebutuhan rumah tangga.

Ia memindahkan kantong-kantong belanja ke bagasi, pulang, lalu kembali ke penthouse dengan banyak kantong makanan dan bahan-bahan masakan.

Rasanya seperti mimpi.

Tidak lama sebelumnya, ia bahkan tidak mampu membeli mie ramen.

Sekarang, ia punya dapur mewah, meja marmer, dan bahan-bahan yang cukup untuk memasak seperti koki pribadi.

Ia merapikan semuanya, lalu menyiapkan sarapan sederhana—telur, roti panggang, jamur panggang, dan jus buah. Tidak ada yang berlebihan. Hanya makanan sungguhan. Makanan yang tidak perlu ia *regangkan* atau ia bagi-bagi. Makanan yang bisa ia nikmati.

Ia menyusun sarapannya dengan rapi dan duduk di dekat jendela besar ruang tamu, sementara cakrawala kota terbentang di hadapannya.

Setiap suapan rasanya lebih nikmat daripada sebelumnya.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Liam tidak makan demi bertahan hidup.

Ia makan karena ia ingin.

---

Sisa hari itu berlalu seperti hembusan angin.

Ia menonton film. Tidur siang. Ia membuka situs belanja online untuk mencari tambahan perabot—mungkin sistem audio, mungkin kursi pijat. Ia bahkan mencoba membaca buku, tapi ia tertidur di tengah halaman.

Tenang.

Tidak ada tekanan. Tidak ada atasan yang teriak-teriak. Tidak ada tagihan yang harus ia takutkan.

Sehari malas seperti inilah yang biasanya dianggap remeh oleh orang kaya.

Jadi begini rasanya hidup, pikir Liam sambil bersandar di sofa.

Malam datang.

Langit menggelap, dan lampu-lampu kota di bawah berkelip seperti lautan bintang. Liam menuang segelas jus dingin untuk dirinya, lalu bersandar, menatap langit-langit.

Hanya ada satu hal yang mengganggunya.

Absensi.

Ia bahkan tidak melihat opsi itu muncul seharian ini.

Apa ada jeda?

Cooldown?

Ia mulai panik membayangkan kalau sistem itu ternyata cuma kejadian sekali saja, dan ia mungkin akan kembali ke keadaan seperti sebelumnya.

Atau mungkin opsi absensi itu tidak akan muncul malam ini, dan ketika ia tidur lalu bangun besok, ia akan mendapati bahwa semuanya hanya mimpi.

Itu akan benar-benar menyakitkan. Bahkan membayangkannya saja membuat dadanya terasa makin sesak.

Liam baru saja hendak memanggil sistem dan bertanya tentang opsi absensi itu ketika notifikasi yang sangat ia tunggu akhirnya berbunyi di kepalanya.

[Ding!]

[Apakah Anda ingin masuk, Host?]

Liam duduk tegak sambil tersenyum lebar. “Ya.”

[Selamat, Host. Anda telah menerima $300.000, +5 poin atribut]

[Host sekarang dapat melihat layar status. Katakan "status" untuk melihat.]

Ponselnya bergetar hampir seketika.

Liam meraihnya, membuka aplikasi bank, lalu tertawa kecil ketika melihat saldo:

$309,018.69.

Uang masuk lagi—dan poin statistik juga?

Senyumnya makin lebar. Jadi sistem tidak hanya memberi uang.

Sekarang ada fitur baru.

Layar status, ya?

“Status,” kata Liam keras-keras.

— End of Chapter 6
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 6 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 6. Please respect spoilers from other chapters.