Back to detail
Sistem Absensi Terakhirku Membuatku Tak Terkalahkan
Chapter 9 of 50

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 095 min read1.201 words

Bab 9: Stacy Burton

Sore hari setengah lewat siang, matahari memancarkan cahaya amber lembut di balik jendela kaca luas **Crown Ivy Lounge**, salah satu kafe upscale paling eksklusif di Westbridge. Terletak di lantai teratas **Monarch Pavilion**, lounge itu terkenal sebagai tempat favorit anak-anak muda kaya raya di kota—sebuah oase yang tenang dengan keanggunan yang rapi, campuran teh impor yang harum, serta bilik privasi berbalut kain beludru yang menghadap ke cakrawala lautan.

Saat Liam menelepon Stacy dan bilang dia sedang luang, Stacy hampir seperti menyala. Dia menawarkan untuk membayar dan bahkan memilih titik pertemuannya sendiri. Dan sekarang, mereka benar-benar ada di sini.

Duduk berhadapan di sebuah bilik privasi, Liam memperhatikan Stacy mengangkat cangkirnya dengan gerakan yang anggun, menyesap, lalu mengembuskan napas panjang puas.

“Mmm,” Stacy tersenyum. “Mereka benar-benar tahu cara membuat **honey-lavender latte** yang sempurna di sini.”

Liam hanya mengangguk kecil sambil menggenggam minumannya sendiri—minuman dingin berupa black citrus brew, disajikan dalam gelas yang dibalut es bening, jenis minuman yang tampak lebih cocok berada di bar bintang Michelin daripada sebuah kafe.

Dia belum meneguk lebih dari dua kali, tapi Liam menyukai rasanya.

Sayangnya, dalam urusan minuman seperti itu, Liam masih tergolong orang baru kelas atas. Jadi, ia belum sepenuhnya bisa menghargai apa pun yang ada di dalamnya.

Namun, yang lebih menonjol daripada minumannya justru tatapan di mata Stacy.

Dia tersenyum, berbicara pelan, bahkan sedikit mencondongkan badan—tapi Liam bisa melihat semuanya. Ada rasa ingin tahu. Bahkan seperti lapar.

Dan Stacy berusaha keras menyembunyikannya di balik pesona yang diukur dengan teliti.

Setelah sekian lama berurusan dengan orang-orang—baik dari kelas bawah maupun atas—Liam mempelajari sesuatu yang sederhana: orang lebih banyak berbohong dengan mata mereka daripada dengan mulut.

Stacy, meski tampak sangat tenang, jelas sudah menunggu momen ini. Dan kini momen itu sudah ada di tangannya, dia tidak ingin membuang waktu.

“Jadi,” Stacy mencondongkan badan sedikit, meletakkan kedua lengan di atas meja, “Tuan Liam, aku benar-benar penasaran tentang kamu. Tapi pertama—biar aku memperkenalkan diri dengan benar. Aku **Stacy Burton**.”

Liam menyesap minumannya, matanya tak pernah lepas dari Stacy. Lurus, tegas. Belum ada penyebutan nama atau latar belakang. Itu justru sesuatu yang tak terduga.

Dia sempat setengah berharap Stacy akan membuka dengan siapa ayahnya atau jabatan apa yang diduduki ibunya di sebuah dewan. Tapi Stacy tidak melakukan itu.

“**Liam Scott**,” jawab Liam singkat.

Stacy memiringkan kepala dengan senyum lembut. “Liam Scott. Nama yang bagus. Aku suka.”

“Terima kasih.”

Dia tidak menambahkan apa pun lagi, karena tak ada hal lain yang perlu dikatakan.

Kini Liam menatapnya—bukan karena curiga, tapi karena penasaran. Dia ingin melihat apa yang akan Stacy lakukan setelah keheningan itu.

Dan seperti yang dia duga, Stacy mengisinya.

“Umm,” Stacy memulai lagi, menggeser cangkirnya pelan di tangan. “Aku juga masih ingin meminta maaf soal hari yang lain. Aku tidak bermaksud mengatakan apa pun dengan nada buruk atau berniat menyinggung. Aku cuma… terkejut.”

Liam memberinya senyum yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu di lift—sopan, tapi terasa jauh.

“Jangan terlalu dipikirkan,” kata Liam. “Kayak yang aku bilang, nggak apa-apa.”

Kebenarannya, komentar Stacy pada hari itu sama sekali tidak meninggalkan bekas apa pun pada Liam. Opini orang itu seperti mata uang—hanya bisa memengaruhi kamu jika kamu memberinya nilai.

Dan opini Stacy? Sama sekali tidak berbobot di dunia Liam.

Meski begitu, Liam mengerti kemungkinan besar sikap Stacy tadi hanyalah cara keliru miliknya untuk menawarkan bantuan.

Stacy berniat baik. Meski caranya canggung.

Stacy mengembuskan napas pelan. Dia menyadari Liam tidak memberi banyak detail pribadi. Tapi alih-alih berkecil hati, Stacy justru menonjolkan karisma alaminya.

“Aku akan jujur saja,” kata Stacy sambil mengangkat bahu. “Aku penasaran tentang kamu, Tuan Liam. Kamu tidak banyak bicara, dan aku juga tidak bisa menemukan kamu di internet. Tapi kamu memiliki penthouse di **Palm Ville Estate**? Itu bukan sesuatu yang bisa diraih orang-orang normal.”

Stacy tertawa ringan, tapi ada bobot yang sengaja ditaruh di nada bicaranya.

“Berarti kamu pasti berasal dari keluarga tertentu. Mungkin keluarga yang punya banyak pengaruh, atau keluarga lama yang kaya—”

Ekspresi Liam sama sekali tidak berubah. Dia tidak mengerutkan kening, tidak tersentak. Dia hanya meneguk pelan lagi minumannya, lalu menaruhnya kembali di atas meja.

Kemudian dia tersenyum—tapi bukan senyum yang hangat.

Senyum itu terukur, dingin, dengan sedikit rasa geli yang tersembunyi di bawah permukaan.

Dan senyum itu, dipadukan dengan intensitas tenang di tatapan Liam, membuat Stacy membeku.

Waktunya seperti memanjang.

Stacy menoleh sebentar, lalu memaksa dirinya untuk menatap balik mata Liam.

“Aku minta maaf kalau tadi ada yang kukatakan salah,” kata Stacy pelan. “Aku tidak bermaksud terlalu ikut campur. Aku cuma penasaran.”

Ini baru kali kedua Stacy menghabiskan lebih dari beberapa menit dengan Liam. Tapi di kedua kesempatan itu, Stacy selalu merasa ada sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.

Kecil—tapi nyata.

Bukan karena mobil. Bukan karena penthouse. Dan bahkan bukan karena cara Liam berpakaian.

Melainkan karena Liam sendiri.

Dia tidak mengangkat suara. Dia tidak berusaha menunjukkan kesan. Dan dia tidak terguncang saat berada di bawah tekanan.

Liam hanya… ada dengan kendali penuh.

Itu tidak cuma membuat Stacy takut, tapi juga melukai harga dirinya.

Ayah Stacy adalah pendiri **Altimax Holdings**, sebuah kelompok investasi terdiversifikasi dengan nilai mendekati **$10 miliar**.

Ibunya memiliki salah satu kerajaan kosmetik butik paling berpengaruh di Pantai Barat negara itu.

Melalui jaringan orang tua Stacy, dia tumbuh di tengah kekayaan, status, dan akses. Dia tahu anak-anak dari senator, CEO, bos media—dan selama ini dia tak pernah merasa tidak nyaman berada di mana pun.

Sampai sekarang.

Berhadapan dengan Liam Scott, Stacy seperti sedang menjalani sidang—dan dia bahkan tidak tahu kasusnya apa.

Liam sendiri, untuk bagiannya, memahami persis apa yang dirasakan Stacy.

Stacy telah membuat sebuah asumsi: penthouse Liam berarti dia berasal dari keluarga elite. Anak dari privilege. Seseorang seperti dirinya.

Tapi Liam tidak demikian.

Dia hanya seorang pemuda dengan rahasia yang tak bisa dipahami orang lain. Rahasia yang memberinya kekuatan, kekayaan, dan kebebasan lebih besar dibanding yang bisa ditawarkan keluarga-keluarga semacam itu.

Meski begitu, Liam tidak berniat membetulkan Stacy.

Biarkan Stacy menemukan kebenaran sesuai waktunya sendiri.

Liam berdiri dengan mulus. Kursinya tidak menimbulkan suara saat dia bangkit.

“**Nona Stacy**,” kata Liam sambil tersenyum, “terima kasih atas minumannya. Tapi aku akan pergi.”

Mata Stacy sedikit melebar. “Tunggu—”

“Aku harap kita bisa dapat kesempatan lain untuk bicara lagi,” tambah Liam dengan nada tenang namun tegas, “mungkin lain kali, kita berdua bisa bicara lebih sedikit seperti penyelidik… dan lebih seperti manusia.”

Belum sempat Stacy menjawab, Liam sudah berjalan pergi.

Dia tidak menoleh.

Pintu **Crown Ivy Lounge** menutup di belakangnya, dan Stacy duduk kaku, menatap tempat Liam tadi duduk hanya beberapa detik yang lalu.

Stacy menghela napas, lalu menyesap latte-nya perlahan—kini ia tak lagi merasakan manisnya.

Sesaat kemudian, ponselnya bergetar. Ada panggilan masuk dari salah satu teman Stacy.

Stacy menjawab, masih menatap meja.

“Hei,” katanya, suaranya sedikit jauh.

“Stace, kamu nggak apa-apa? Kedengarannya kamu aneh.”

“Aku habis minum kopi sama seseorang. Dan… aku nggak bisa jelasin. Tapi dia beda.”

“Bedanya gimana?”

“Enggak tahu,” jawab Stacy jujur. “Tapi aku pengin cari tahu.”

“Kalau kamu bilang dia beda, berarti dia pasti beneran spesial. Pokoknya aku lagi bareng Alex dan yang lain, dan dia lagi ngasih info yang—wah—yang benar-benar juicy. Kenapa kamu nggak ikut aja ke sini?”

“Boleh. Tahan sebentar, ya. Aku sebentar.”

“Jangan lama-lama, sayang,” kata gadis di ujung sana, lalu menutup telepon.

Stacy menghela napas sambil menjatuhkan ponselnya ke atas meja.

“**Liam Scott**. Kamu siapa?” gumamnya pada diri sendiri.

— End of Chapter 9
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 9 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 9. Please respect spoilers from other chapters.
Sistem Absensi Terakhirku Membuatku Tak Terkalahkan — Chapter 9 — Novtoon