Back to detail
Terlahir Kembali di Akademi Militer: Jenderal, Jangan Main-main!
Chapter 11 of 50

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 113 min read644 words

Bab 11 - Menyimpan Dendam

Mendengar itu, Sun Dongqing langsung berdiri dari tanah, keluhan-keluhannya seketika terlupakan. “Gadis sialan, berani sekali kamu melawan dan menjawabku begitu? Kamu masih punya rasa hormat pada bibimu nggak?”

“Memalukan! Berani melawan pihak yang lebih senior seperti ini! Tentu saja kamu akan melakukan hal tak tahu malu seperti menggodai gurumu!”

“Bibi, kamu bilang aku menggodai guruku, tapi apakah kamu sudah membuktikannya? Apa kamu sempat pergi ke sekolahku untuk menanyakan? Apakah staf sekolah pernah datang ke rumahmu? Apa kamu sudah bertanya pada Ye Ying tentang apa yang sebenarnya terjadi?” Ye Jian tetap tenang. Ia lalu melibatkan Ye Ying dalam masalah ini. Bukan hanya sikapnya yang tegak, kata-katanya pun penuh keyakinan!

Beberapa warga desa yang kebetulan bertemu Ye Jian di pagi hari langsung berkumpul. Setelah mendengarkan beberapa saat, mereka mulai paham inti persoalan itu, lalu membicarakan apa yang terjadi kemarin.

“Waktu itu Jian lagi ujian. Kalau begitu, bagaimana bisa dia menggodai gurunya?”

“Ye Ying nyuruh Jian lari bareng, lalu Ye Ying menyandungnya. Terus gimana Jian jadi terlibat urusan menggodai gurunya?”

Sun Dongqing sudah tidak bisa mengikuti pola pikir Ye Jian lagi. Lebih parahnya, begitu nama Ye Ying disebut, ia sempat panik sesaat. Kalau ia tidak segera memikirkan sesuatu untuk dikatakan, ia bisa kehilangan kesempatan.

Sementara itu, para warga mulai menenangkan Ye Jian.

“Kalau nggak ada asap, nggak mungkin ada api. Kalau kamu benar-benar belum pernah melakukannya, siapa berani menuduhmu begitu?” Dengan emosi, Sun Dongqing mendorong para tetangga yang masih mengelilingi Ye Jian. Ia menunjuk Ye Jian sambil mencaci maki. “Semua yang terjadi pasti ada sebabnya. Kalau kamu memang orang yang baik, siapa yang berani menghakimimu?!”

Ye Jian menatap bibinya langsung ke mata, senyum tipis terbit di wajahnya. “Aku memang tidak melakukan apa pun yang salah, tapi ada orang-orang yang sengaja ingin mencemarkan reputasiku. Aneh juga ya—di sini cuma bibi yang tahu kejadian ini.”

“Aku ingin tanya, kamu dengarnya dari siapa? Gini saja, aku akan menghadap orang itu sendiri. Kamu kan keluargaku, bibi ku sendiri. Aku nggak yakin bibi benar-benar ingin aku dituduh secara keliru.”

Ye Jian mundur sedikit demi sedikit, demi maju dalam hal sikap. Ia tahu, hanya dengan berbicara lebih tenang dan tidak terlalu agresif, para warga bisa percaya bahwa ia tidak sedang menantang Sun Dongqing.

Sun Dongqing tetap ngotot bahwa ia benar. Ia menepuk-nepuk dada dan menginjak-injak kaki, menangis seolah menanggung kesedihan yang menyayat hati. “Siapa yang telah menganiaya kamu? Kamu tahu nggak apa yang kamu lakukan?! Gadis sialan, kamu bahkan nggak mau mengakui kesalahanmu! Aku memang mau menyembunyikan rahasiamu, tapi—apakah mungkin?!”

Melihat sikapnya, para warga akhirnya menyadari betapa seriusnya masalah yang sedang terjadi. Kalau Sun Dongqing tidak memberitahu mereka, mereka tentu tidak akan tahu.

“Dia cuma anak kecil. Mana mungkin bisa melakukan hal seperti itu!! Menggodai gurunya itu dosa yang kejam!” Seorang warga menimpali, “Dongqing, sebaiknya kamu panggil orang yang memberi tahu kamu soal ini. Biar kalian saling berhadapan!”

“Benar. Tidak bisa dimaafkan kalau reputasi seorang anak sampai ternoda, kalau sama sekali tidak ada kejadian seperti itu!”

Karena Ye Jian tidak melakukan apa pun yang salah, ia membela diri dengan penuh keyakinan. Tatapannya yang jernih dan sikapnya yang tenang sudah cukup untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah.

Konfrontasi? Tidak ada siapa pun yang bisa diajak berkonfrontasi!

Di dalam hati, Sun Dongqing menyimpan kebencian yang begitu dalam. Ia menatap Ye Jian dengan ganas dan muram, lalu berkata, “Ye Jian, kamu pikir karena sudah besar jadi kamu nggak perlu lagi nurut padaku, ya?”

“Aku belum besar. Aku cuma sedikit lebih dewasa.” Ye Jian mengangguk pelan. “Aku tahu betapa seriusnya tuduhan seperti ini. Dan aku tahu aku harus membela diriku ketika ada rumor seperti itu. Kalau bibi yakin aku cukup tak tahu malu sampai merayu guruku, berarti bibi pasti tahu kan kapan dan di mana kejadian itu berlangsung!”

“Warga sekalian, aku tidak tahu bagaimana rumor ini bisa menyebar, tapi semuanya berasal dari ucapan bibiku sendiri. Jadi, aku mohon kalian—tolong menjadi saksi untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah!”

— End of Chapter 11
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 11 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 11. Please respect spoilers from other chapters.