Back to detail
Terlahir Kembali di Akademi Militer: Jenderal, Jangan Main-main!
Chapter 13 of 50

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 132 min read545 words

Bab 13 – Begitu Palsu

“Coba lihat, apa kamu benar-benar sudah berubah!”

Sejak pertengkaran dimulai, Ye Ying sudah tidak lagi repot berpura-pura. Saat ini, dia bukanlah Ye Ying yang lembut dan patuh. Begitu hatinya kesal, Ye Ying memperlihatkan kepribadiannya yang asli—sombong dan manja. Dengan wajah lurus, ia berkata keras, “Kamu tinggal di rumahku dan ditanggung oleh keluargaku. Kalau kamu pergi dari keluargaku, kamu lebih buruk dari seekor anjing!”

Ye Jian menatapnya. Mata hitamnya seperti lautan yang tenang dan luas—namun juga menyimpan kedalaman yang tak terukur, dingin yang menusuk. Tatapan itu membuat Ye Ying tidak nyaman sampai ia menelan ludah dan tersedak, “Y... kamu, kamu ngapain lihat aku?”

Dengan senyum lembut, Ye Jian berkata perlahan, “Pulang dulu, lalu tanyakan ke ibumu, siapa sebenarnya yang menafkahi kamu! Satu lagi, Ye Ying—kalau kamu pergi dariku, hidupmu yang akan lebih menyedihkan daripada anjing. Ingat itu!”

“Haha, sampai Senin, Ye Ying.”

Senin. Kelas Delapan SMP Kota Fujun akan mengadakan ujian tiruan. Jangan meremehkan SMP ini. Karena ada unit tentara yang ditempatkan di kota itu, sekolahnya sangat ketat dalam urusan akademik.

Begitu mendengar Senin, wajah Ye Ying langsung membeku. Ia marah, dan merasa seolah mendapat penderitaan yang tak terbayangkan. Tetesan air mata mulai mengalir, seperti manik-manik jatuh dari mata yang berembun.

“Kak, ini salahku, salahku. Tolong jangan marah.” Meski Ye Ying sangat membenci Ye Jian, ia segera berpura-pura mengaku bersalah. Ia berperilaku seperti anak yang mudah naik pitam—tipe yang selalu bisa mendapatkan pengampunan dari orang dewasa dengan mudah.

Ye Jian melirik tangan Ye Ying yang menggenggam lengannya. Dengan senyum palsu di wajahnya, ia menatap Ye Ying penuh hinaan. “Aku sudah terlalu sering melihat kebohonganmu. Kamu bilang seberapa banyak kamu minta maaf, tapi di dalam hatimu, kamu tetap membenciku sampai sedalam-dalamnya.”

“Aku tahu apa yang kamu katakan ke ibumu.” Tanpa diduga, Ye Jian berbalik sedikit. Dengan mata hitam yang dingin, ia memeriksa wajah Ye Ying yang panik. “Kemarin, kamu menyeretku lari bareng kamu, karena sebenarnya kamulah yang menggoda guru matematika baru itu.”

Mendengar itu, Ye Ying tersentak—panik dan takut. Namun demi menyembunyikan fakta, ia langsung mengangkat suaranya dan berteriak, “Omong kosong!”

“Kamu sendiri tahu itu omong kosong atau tidak.” Ye Jian mengangkat tangannya dan menepuk punggung tangan Ye Ying dengan pelan. Dengan senyum yang samar, ia berkata, “Seperti pepatah, orang yang tidak adil pasti akan menemui kehancuran. Ye Ying, kamu tidak pernah jago dengan pepatah. Berarti kamu pasti tidak ingat yang ini.”

Pada saat itu, Ye Ying merasa seperti sesuatu sedang dipukul—atau ditekan—ke punggung tangan yang ia miliki. Ia sangat ketakutan sampai tubuhnya bergetar, lalu ia langsung melepaskan tangan Ye Jian.

Ye Ying menatap Ye Jian sekali lagi. Sepertinya Ye Jian masih yang dulu—tapi ada sesuatu yang samar-samar berbeda. Ya, masih ada senyum halus di mata hitamnya, namun senyumnya didominasi oleh rasa dingin…

“Ye Jian...” Seperti biasa, Ye Ying berusaha mengangkat suaranya dan memaki Ye Jian. Namun baru saja ia membuka mulut, ia sadar suaranya bergetar.

Getar itu jelas sekali—sampai-sampai Ye Jian bisa mendengarnya.

“Ha! Aku akan bilang ke ayahku bahwa kamu menindasku! Kamu menindasku!” Ye Ying semakin cemas, semakin ketakutan, suaranya makin keras saat ia melihat Ye Jian—orang yang selama ini ia sakiti dan pandang rendah—pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Harus bagaimana? Bagaimana cara membereskan kekacauan ini? Karena Ye Ying tidak berani tetap di sana lebih lama lagi, ia hanya bisa mengejar Ye Jian sambil menangis.

— End of Chapter 13
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 13 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 13. Please respect spoilers from other chapters.