Back to detail
Terlahir Kembali di Akademi Militer: Jenderal, Jangan Main-main!
Chapter 20 of 50

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 203 min read606 words

Bab 20 — Bersyukur Karena Memilikimu

Penerjemah: Henyee Translations Penyunting: Henyee Translations

Biasanya, Xia Jinyuan sudah punya pengaturan sendiri ketika melakukan aksi militer. Namun kali ini, alih-alih langsung menjawab gadis itu, ia hanya menatap ke dalam matanya—mata yang menyimpan keteguhan sekaligus dingin.

Mungkin karena ia terlalu lama diam, gadis itu jadi gugup. Ia kembali berbicara dengan cemas, “Kalau mereka memanjat ke sini, mereka akan sampai ke Goat Horn Creek. Setelah menyeberangi sungai, mereka bisa masuk ke jalan utama. Kapten Xia, kalau Anda percaya saya, tolong ikut saya lewat sini.”

Ye Jian sebelumnya berlari untuk mengejar mereka, jadi dahinya merah dan bengkak, dan titik-titik darah kecil merembes dari wajahnya akibat tergores daun-daun semak. Meski begitu, tatapan di matanya sama sekali tidak goyah—tetap tegas dan penuh ketekunan. Seolah pohon muda yang berakar di tepi tebing; tak ada bahaya atau ancaman yang bisa menggoyahkan keyakinannya.

Diamnya Xia Jinyuan hanya berlangsung beberapa detik, lalu ia tersenyum tipis. Di bawah helm, wajahnya yang sangat tampan namun dingin justru membuat Ye Jian merasa hangat—karena ia berkata, “Baik.”

Sederhana dan tegas.

“Aku bisa memastikan aku orang yang paling paham medan di sini,” kata Ye Jian. Ia mengatupkan bibirnya, lalu mengangguk ringan. Suaranya bening dan terdengar polos, “Kalau Anda mengikuti arahku, kalian ada di jalur yang benar.”

Xia Jinyuan merapatkan jari-jarinya yang panjang, lalu perlahan mengangkat tangannya dan memberi isyarat agar Ye Jian berjalan lebih dulu. “Dan aku bisa pastikan, dengan kami di sampingmu, kamu akan pulang dengan selamat tanpa terluka.”

Kadang orang memilih untuk saling percaya hanya karena satu tatapan, satu tindakan, atau satu kata.

Xia Jinyuan percaya pada Ye Jian, karena ia telah melihat keyakinan tekad yang tersembunyi di balik tatapan tenangnya.

Gadis kecil yang sangat menarik. Tidak menurut, tapi cara bicara dan tindakannya tetap punya batas. Tidak sulit untuk mempercayainya.

Agar Xia Jinyuan mau percaya, wajah Ye Jian makin kencang karena cemas. Matanya yang berkilau terang, seperti matahari, seolah berkata bahwa ia tidak akan menyerah dengan mudah.

Ia benar-benar ingin membantu mereka…

Xia Jinyuan tersenyum kecil. Ia mengangguk dan berkata pelan, “Kamu akan berjalan di belakang kami. Dalam keadaan apa pun, kamu tidak boleh bertindak ceroboh.”

“Baik.” Ye Jian mengembuskan napas lega. Saat angin bertiup, ia baru menyadari bahwa aroma di udara ternyata sudah makin samar.

Seorang prajurit yang bertugas mempelajari peta menatap Ye Jian lalu berbisik pada Xia Jinyuan, “Kapten, dia benar. Ini rute tercepat kalau mereka mau kabur ke jalan utama.”

“Kalian bertiga, lewat sini.” Jari-jari panjang Xia Jinyuan mengusap peta dengan ringan. Ekspresi di wajahnya—serius, tenang, dan cerdas—membuatnya seperti seorang kaisar yang sedang menjaga wilayahnya sendiri. “Kalian bertiga lewat sini, lalu tetap di belakang tim kami.”

Sambil memberi instruksi kepada pasukannya, Xia Jinyuan mengangkat kepala dan menatap Ye Jian dengan mata tajam. “Gadis, karena kamu tahu musuh kita punya senjata api, kamu harus bersembunyi dan jangan sampai mereka melihatmu!”

“Oke!” Ye Jian mengangguk.

Meski para prajurit tidak mengerti mengapa Xia Jinyuan membawa gadis kecil ini, mereka tidak punya waktu untuk bertanya. Dengan membawa senjata, mereka mengikuti Ye Jian dan mengejar para kriminal itu dengan cepat.

Arah yang Ye Jian tunjukkan tepat sasaran. Seorang prajurit yang sebelumnya bertugas sebagai pengintai menatap Ye Jian dengan kaget. Bagaimana dia bisa melakukannya tanpa menoleh-ngeliling, memeriksa situasi, atau menganalisis kemungkinan-kemungkinan?

Dibanding pengintai yang terkejut itu, Xia Jinyuan lebih cepat menenangkan diri dari keterkejutannya sesaat, lalu ia menerima fakta bahwa Ye Jian memang luar biasa dalam kemampuannya.

Dunia ini begitu luas, tidak ada yang perlu terlalu disurprise. Ada orang yang memang terlahir lebih cerdas daripada yang lain, sementara ada juga yang sudah ditakdirkan biasa saja. Ketika kau bertemu seseorang yang membuat rahangmu ternganga, yang perlu kau ketahui adalah bahwa itu bukan karena mereka aneh, melainkan karena kau tidak sebaik mereka.

— End of Chapter 20
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 20 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 20. Please respect spoilers from other chapters.