Back to detail
Aku Membangun Kebun Binatang Suci di Dunia Lain
Chapter 27 of 73

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 274 min read870 words

Bab 27: Harimau Bertanduk Satu

Lukas, yang selama ini mendengarkan semuanya dengan saksama, merasa sangat bingung.

*'Kebangkitan?'*

*'Kemampuan?'*

Dia memiringkan kepalanya, menatap ibunya dengan mata ungu yang penuh rasa ingin tahu.

"Ibu..." panggilnya sambil menarik ujung gaun ibunya.

"Apa itu masalah Kebangkitan?"

Aurora berhenti sejenak, tangannya masih tergeletak di atas kepala Judite. Mata ungunya beralih ke wajah putra bungsunya, menilainya.

Lukas melihat ibunya ragu-ragu, sedikit kerutan di dahinya menandakan bahwa sebuah keputusan sedang dibuat.

Setelah beberapa detik, ibunya memutuskan ya. Lukas sudah menunjukkan kecerdasan yang cukup untuk mengerti.

"Anakku," Aurora mulai, suaranya lembut namun serius.

"Saat semua anak mencapai usia lima tahun, sesuatu di dalam diri mereka bangkit. Itu alami. Itu sudah diharapkan. Itu bagian dari bertumbuh besar di dunia ini."

Dia berhenti sejenak, menata pikirannya.

"Kami menyebutnya sebuah Kebangkitan. Pada saat itu, anak tersebut mendapatkan kemampuan bawaan, sebuah kekuatan unik yang akan menemani mereka seumur hidup."

Lukas menahan napas.

"Itu bisa berupa sesuatu yang sederhana dan umum," lanjut Aurora, menghitung dengan jari-jarinya.

"Seperti 'Tangan Lincah', yang membantu menjahit atau melakukan pekerjaan manual dengan presisi lebih tinggi. Atau 'Ingatan Kuat', yang mempermudah mengingat sesuatu. Atau 'Kekuatan Ringan', yang memungkinkan seseorang membawa beban lebih berat dari normal tanpa menjadi lelah."

Dia mengangkat satu jari lagi.

"Atau bisa juga berupa kemampuan yang kuat. Yang langka. Seperti 'Manipulasi Api', yang memungkinkan seseorang menciptakan dan mengendalikan api. 'Pedang Sempurna', yang memungkinkan seseorang menggunakan pedang apa pun dengan penguasaan penuh, seolah-olah pedang itu adalah perpanjangan dari tubuhnya sendiri. 'Penyembuhan Cepat', yang membuat luka pulih lebih cepat dari obat apa pun yang pernah ada."

Dia berhenti, matanya berkilau.

"Atau bahkan 'Afinitas Elemen', yang mempermudah penggunaan sihir dan mengendalikan elemen alam."

Lukas mengedipkan matanya.

"Setiap manusia memiliki setidaknya satu kemampuan bawaan," kata Aurora, menatapnya dengan penuh kasih.

"Bahkan kamu. Setiap Dmond memilikinya."

Dia memiringkan kepalanya, dengan senyum bangga di bibirnya.

"Faktanya, ayahmu dan aku percaya kemampuanmu sudah bangkit. Dan itulah kenapa kamu begitu kuat meskipun masih sangat muda."

Mata Lukas membelalak.

"Kebangkitan sebelum usia lima tahun hampir tidak pernah terdengar," lanjutnya, merendahkan suaranya seolah membagikan rahasia berbahaya.

"Aku belum pernah melihatnya terjadi. Aku belum pernah mendengar kasus yang terkonfirmasi, hanya rumor dan legenda."

Dia menatap langsung ke mata Lukas.

"Tapi kamu... kamu berbeda, Lukas. Berbeda dari anak mana pun yang pernah aku lihat."

Lukas diam untuk waktu yang lama, memproses informasi itu.

*'Kekuatan abnormalku... itu bisa jadi sebuah kemampuan. Sesuatu yang bangkit saat aku menamai Tilbo. Atau mungkin ini konsekuensi dari reinkarnasi. Atau mungkin keduanya.'*

Dia mulai bertanya-tanya apa sebenarnya kemampuannya, apakah hanya kekuatan fisik semata atau ada sesuatu yang lebih.

*'Aku perlu mencari tahu. Tapi tidak sekarang. Saat ini, aku perlu menyerap semua yang bisa aku ketahui tentang dunia ini.'*

Judite, yang mendengar penjelasan itu lagi—sesuatu yang sudah pernah dia dengar sebelumnya tetapi tidak pernah bosan mendengarnya—menjadi semakin bersemangat. Kegelisahannya berubah menjadi antisipasi yang terus membesar, dan dia mulai mengayunkan kakinya, mengetukkan tumitnya ke kursi kayu.

"Aku ingin segera bangkit!" serunya, matanya berbinar.

"Aku ingin mulai berlatih dengan Ayah! Aku ingin melindungi keluarga!"

Dia menatap Lukas, yang jauh lebih kecil darinya, dan tersenyum.

"Aku juga ingin melindungimu, Lukas! Aku akan menjadi kakak perempuan terkuat di dunia!"

Lukas membalas senyumnya tetapi tidak berkata apa-apa.

*'Dia tidak tahu bahwa aku bisa mematahkan batang besi dengan tangan kosong.'*

Saat itulah, ketika mereka bertiga sedang mengobrol penuh semangat di dalam kereta—Judite bertele-tele tentang petualangan masa depannya sebagai seorang ksatria, Lukas mengajukan pertanyaan tentang kota, dan Aurora menjawab dengan kesabaran tak terbatas—sebuah suara mengerikan merobek udara.

*'RRRRROOOOOOAAAAAARRR!'*

Auman itu dalam, parau, dan kuat, begitu mendalam hingga Lukas merasakan getaran di tulang-tulangnya, di giginya, dan di dadanya.

Itu bukan suara hewan biasa. Itu bukan auman singa atau harimau dari Bumi. Itu adalah sesuatu yang lebih primitif, lebih kuno, seolah-olah bumi itu sendiri sedang berteriak.

Pepohonan di sekitar jalan berguncang. Daun-daun berjatuhan dari kanopi seolah-olah angin kencang tak terlihat telah menyapu. Burung-burung beterbangan dalam kawanan panik, awan gelap sayap mengepak di langit yang cerah.

Pada saat yang sama, sebuah tekanan mengerikan, seberat timah, turun ke atas kereta.

Lukas merasakan udara menjadi lebih pekat, lebih sulit dihirup. Seolah-olah sebuah tangan tak terlihat sedang meremas dadanya, menekan paru-parunya.

Jantungnya berdetak kencang, bukan karena rasa takut, atau bukan hanya rasa takut. Melainkan karena insting bertahan hidup primitif yang bahkan tidak dia sadari dia miliki.

*'Apa... apa itu?'*

Kuda-kuda itu meringkik panik. Lukas mendengar kusir kereta mendengus saat dia menarik keras tali kekang, mencoba mengendalikan hewan-hewan itu yang meronta-ronta, kuku mereka menghantam tanah berbatu dengan putus asa.

Di dalam kereta, Lukas, Judite, dan Aurora melompat ketakutan.

Judite menjerit tajam, jenis jeritan yang sangat dikenal Lukas—jerit kejutan murni—dan meraih lengan ibunya erat-erat. Jari-jari kecilnya mencengkeram kain gaun Aurora.

Aurora, pada gilirannya, bertindak berdasarkan naluri. Lengannya melingkari kedua anak itu dalam gerakan cepat, menarik mereka ke dadanya. Lukas merasakan jantungnya berdetak cepat di pipinya. Aroma tubuhnya—lavender, susu, dan sesuatu yang manis—memenuhi indra penciumannya.

"Diam," bisik Aurora, suaranya tegas meskipun rasa takut bisa Lukas rasakan bergetar di sekujur tubuhnya.

"Tenang. Jangan bersuara."

Dari luar, mereka mendengar teriakan mendesak Clavor.

"JANGAN KELUAR DARI KERETA!"

Suara Clavor membelah udara seperti pedang, cukup keras untuk didengar meskipun kuda-kuda panik dan auman masih bergema di antara pepohonan.

"ITU HARIMAU BERTANDUK SATU!" teriaknya, dan Lukas mendengar suara Clavor melompat dari kudanya, diikuti oleh bunyi berat sepatu botnya menghantam jalan tanah.

— End of Chapter 27
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 27 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 27. Please respect spoilers from other chapters.
Aku Membangun Kebun Binatang Suci di Dunia Lain — Chapter 27 — Novtoon