Bab 50 - Apa Pendapatmu tentang Dia?
**Bab 50. Apa Pendapatmu tentang Dia?**
Awalnya dia mengira orang-orang membeli kue itu karena penasaran.
Baru dua hari kemudian dia menyadari bahwa alasannya bukan hanya itu.
“Mereka sudah habis terjual dan sekarang kita kebanjiran pesanan!”
Elle berusaha bicara dengan tenang, tapi kegembiraan terlihat jelas di wajahnya. Leticia mengangguk dengan senyum bahagia terpampang di wajahnya.
“Aku tahu, aku sangat senang.”
Penjualan kue sekarang sudah pada level yang tidak bisa ditangani Leticia sendirian, jadi dia meminta bantuan dari perusahaan Pegasus.
Pemiliknya memiliki bakat tersendiri dalam bisnis. Jadi dia tidak pernah melewatkan kesempatan bagus untuk menarik perhatian dan rasa penasaran orang dengan menamai produk baru itu ‘Lucky Cookies’.
Berkat hal itu, rumor seputar Leticia berakhir lebih mudah dari yang diperkirakan.
‘Kalau dipikir-pikir, aku belum melihat Lord Achilles beberapa hari terakhir ini.’
Dia ingin memberi tahu bahwa dia sudah baik-baik saja sekarang, namun anehnya akhir-akhir ini sangat sulit untuk melihat wajahnya.
Leticia melirik ke arah pintu depan yang tertutup, berharap Enoch akan membukanya dan masuk.
Elle segera menyadari ke mana arah pandangan Leticia dan mengangkat bahu ringan.
“Dia pasti sangat sibuk. Aku tanya ada apa, tapi dia tidak mau menjawab.”
“Oh, baiklah…”
Wajah Leticia memanas begitu dia bertatapan dengan Elle, yang tampaknya sedang dalam suasana hati yang baik.
“Siapa bilang aku penasaran?”
“Kau mengatakannya berdasarkan ekspresi wajahmu.”
Leticia memalingkan wajahnya dengan malu-malu, meskipun sudah ketahuan.
“Kakak, apa kau akan terus bertingkah imut?”
Cara Elle menggosokkan wajahnya ke bahu Leticia seperti kucing yang mengeluh pada pemiliknya.
Leticia membelai rambut Elle dengan lembut.
“Hanya kau yang menganggapku imut.”
“Ayolah, kakakku juga sangat memuja Kakak.”
“Apa?”
Leticia membuka matanya lebar-lebar, mengira dia salah dengar. Elle hanya mengangkat bahu seolah itu bukan hal yang mengejutkan.
“Setiap kali aku melihat kalian bersama, Kakak selalu terlihat bahagia.”
Leticia menatap Elle, lalu menusuk pipinya dengan senyum main-main di wajahnya. Sekeras apa pun dia berpikir, Elle sepertinya sedang bersenang-senang menggodanya.
“Apa kau akan terus menggodaku?”
“Itu benar, makanya aku bilang…”
Sambil bergelantung erat di bahunya, Elle bertanya.
“Apa pendapatmu tentang dia?”
“Hah?”
Suara Leticia meninggi mendengar pertanyaan tak terduga itu.
Elle pura-pura tidak menyadari kepanikan Leticia dan terus mendesak dengan tekad.
“Aku tidak mengatakan ini karena kita keluarga. Sejujurnya, kakakku tidak kekurangan apa pun.”
Lalu Elle menjelaskannya dengan gamblang; dia tampan, tapi tidak lucu. Dia orang yang bertanggung jawab, dan dia selalu tulus pada Leticia.
Elle memegangi Leticia untuk menghentikannya kabur.
Leticia merasa ingin lari, karena wajahnya memerah demam saat percakapan berlanjut. Dia tidak bisa mendorong Elle yang masih berpegangan di bahunya, jadi dia menundukkan kepalanya.
“Sudah, cukup…”
Jawabannya yang gugup terdengar teredam.
Dia bisa mengakui bahwa tidak ada yang salah dengan semua yang dikatakan Elle.
Mengucapkan kata-kata itu sendiri adalah masalah lain. Namun demikian, ada satu hal yang ingin dia katakan.
“Dia baik hati dan…”
“Hanya kau satu-satunya yang dia manjakan.”
“Begitu rupanya…”
Dia ingin beralih ke topik lain, tapi sepertinya Elle masih punya banyak hal untuk dikatakan.
“Kakakku sempurna, kecuali kekurangan uang. Apa karena mahar?”
“Apa?”
“Ian dan aku yang akan menyediakan maharnya.”
Leticia bingung dan heran mendengar cara Elle mengatakannya dengan santai.
“Elle, mahar itu biasanya disiapkan oleh keluarga pengantin wanita. Tunggu, kenapa kita bicara soal pernikahan sekarang?”
Leticia merasa malu, jadi dia sengaja menanyakan itu dengan nada tidak percaya.
Elle tidak mundur.
“Keluarga pengantin pria bisa mengurusnya. Aku tidak terlalu kekurangan uang seperti yang kukira.”
“Bukan itu maksudku.”
“Kalau tidak cukup, aku akan cari uang lagi untukmu.”
Mata Elle berkilau saat mengatakan itu. Dengan sedikit cemberut di wajahnya, Leticia lalu bertanya.
“Apa kau masih menggodaku?”
“Bagaimana kau tahu?”
“Huh, sungguh?”
Bagaimana caranya godaannya semakin menjadi-jadi.
Leticia meliriknya, lalu melepaskan lengan Elle dari bahunya.
“Aku tidak punya waktu untuk ini.”
“Kenapa? Ada tempat lain yang harus kau tuju?”
Elle tampak kesal karena lengannya disingkirkan.
Menatap tatapannya, Leticia tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya ke arah Elle.
“Ada tempat yang ingin aku kunjungi bersamamu.”
***
Leticia membawa Elle ke sebuah jalan yang menjual aksesoris dan gaun mahal.
Dia sudah menerima uangnya dari direktur Pegasus untuk kontrak Lucky Cookie, dan dia ingin memberi mereka semua hadiah terima kasih karena telah merawatnya.
“Katakan padaku jika ada yang kau inginkan. Aku akan membelikannya untukmu.”
Leticia mengangguk tegas seolah menyuruhnya percaya. Mata Elle membelalak, lalu dia langsung tersenyum lebar.
“Sungguh? Seleraku sangat mahal.”
“Aku tidak tahu seberapa mahal harganya, tapi sebisaku mungkin aku akan membelikannya untukmu.”
Leticia khawatir dia akan memilih sesuatu yang terlalu mahal, dan menggenggam tangannya erat-erat dengan ekspresi muram.
Elle merasa terharu dan bersalah pada saat yang sama, karena Leticia tampak seperti orang tua yang berusaha membelikan anak mereka apa pun yang mereka inginkan, meskipun itu berlebihan.
“Aku tidak bercanda.”
“Apa?”
“Aku sudah menerima begitu banyak darimu sehingga aku ingin membalasnya juga.”
Leticia merujuk pada uang yang diberikan Elle untuk gelang permohonan. Dia sudah menerima begitu banyak yang tidak pantas dia terima. Dia ingin membelikan sesuatu untuknya kali ini, dan berharap dia mau menerimanya dengan rela.
Elle tidak pernah menyesal memberi Leticia uang itu. Sebaliknya, dia sedih karena tidak bisa memberi Leticia lebih.
‘Itu harga yang pantas.’
Jika Leticia tidak memberinya ide, dia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mewujudkan mimpinya atau panggung untuk sukses.
Elle malah tersentuh oleh Leticia yang menghargainya.
“Kalau begitu, bolehkah aku membeli dua aksesoris yang sama dan berbagi dengan Kakak?”
“Yang mana?”
“Seperti gelang atau kalung. Sejujurnya, aku selalu ingin melakukan ini dengan seorang teman.”
Mata Elle berbinar saat dia menangkupkan tangannya. Dia tampak seperti anak kecil yang dengan putus asa meminta mainan yang sangat diinginkannya.
Namun, satu hal yang mengganjal di pikiran Leticia.
“Apa kau yakin ingin melakukannya denganku?”
“Tentu saja! Kau lebih berharga bagiku daripada seorang teman.”
Jawabannya atas pertanyaan itu membuat Leticia tersenyum dan dia mengangguk.
“Baiklah, ayo kita beli aksesoris tercantik dan pakai bersama.”
“Kau tidak boleh melepasnya, ya?”
“Baik, ayo kita pergi membelinya.”
Leticia berjanji tidak akan pernah melepasnya dan dengan bersemangat meraih tangan Elle. Baru saat itulah Elle tersenyum puas dan mengikuti Leticia.
Leticia menggaruk pipinya dengan ekspresi bingung.
‘Kalau dipikir-pikir, aku perlu membelikan sesuatu untuk Ian dan Lord Achilles.’
Dia sudah membeli hadiah untuk Countess Aster.
“Apa ada sesuatu yang selalu diinginkan atau disukai Lord Achilles?”
“Kakakku? Kakakku…”
Elle berusaha mengingat apakah ada sesuatu yang dia butuhkan, tapi tidak bisa memikirkan apa pun. Dia menjawab dengan hati-hati.
“Dia dulu suka mengoleksi pedang terkenal.”
“Sungguh?”
Leticia bingung kenapa Elle memasang ekspresi rumit.
Sebelum dia sempat bertanya ada apa, Elle tersenyum pahit.
“Tidak ada yang tersisa setelah ayahku terlilit utang.”
“Ah…”
Mendengar kata-kata itu, desahan keluar.
Elle memalingkan wajahnya dengan canggung karena dia malu mengatakannya.
Begitu dia melihat betapa mawas dirinya Elle, dia meraih tangannya dengan lembut.
“Kalau begitu aku akan membelikannya pedang.”
“Apa?”
“Pedang yang sangat bagus, meskipun mahal, itu akan sepadan.”
Leticia tersenyum dan meremas tangannya dengan lembut.
Hati Elle perlahan menjadi ringan karena kata-kata penghiburan darinya.
“Apa dia akan suka jika aku memberinya pedang?”
“Ya, dia mungkin akan mati kebahagiaan. Dulu dia mengunci diri di kamar selama berhari-hari setelah menjual pedang kesayangannya.”
“Sungguh?”
“Tentu saja, dia akan lebih menyukainya jika kau yang memberikannya.”
Jika Leticia yang memberikannya, dia pasti akan menyukainya. Bahkan bunga biasa pun menjadi berharga jika diberikan oleh orang yang kau sukai.
Leticia terkekeh melihat anggukan percaya diri Elle.
Jadi mereka berdua pergi ke pedagang senjata bersama-sama.
Pedagang pertama memajang segala jenis senjata. Di antaranya, dia melihat satu yang sangat berkilau.
Leticia mendekatinya seolah kesurupan, dan bergumam pelan.
‘Cantik…’
Dia tahu dia tidak membeli pedang hanya berdasarkan penampilan, tapi dia terus melihat perhiasan dan bentuknya yang memanjang. Dalam imajinasinya, dia bisa membayangkan Enoch menerimanya dengan ekspresi senang dan dia merasakan kepuasan mendalam.
Pedagang senjata itu melihat Leticia menatap dan menghampiri.
“Kau punya mata yang tajam, pedang indah ini baru datang hari ini.”
“Sungguh?”
Berapa harga sesuatu seperti ini?
Leticia perlahan meraih pedang itu. Namun, kehangatan menutupi punggung tangannya bahkan sebelum dia bisa menyentuhnya.
Dia mengangkat kepalanya dengan kaget, dan bertatapan dengan seorang pria yang mengerutkan kening.
“…”
“…”
Xavier tidak bisa menyembunyikan ketidaknyamanannya setelah menyentuh tangan Leticia. Dia bahkan mengelap tangannya sendiri dengan saputangan dari sakunya.
Siapa pun bisa tahu dia bertingkah seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
Leticia bahkan tidak tertawa melihat pemandangan itu. Dia merasakan hatinya menjadi berat dan berusaha sekuat tenaga untuk meraih pedang itu lagi dengan ekspresi acuh tak acuh.
Sebelum dia sempat, Xavier yang kesal menghentikannya lagi.
“Aku yang melihatnya duluan, Saudari. Oh, bukan, kau sudah bukan saudariku lagi, kan?”
“…”
Elle mengatupkan giginya dan mulai mendekat dengan sindiran di ujung lidahnya.
Sebelum dia sempat, Leticia menatap mata Xavier dan berkata.
“Benar, jadi jangan panggil aku seperti itu. Aku juga tidak enak dipanggil ‘saudari’ olehmu.”
Dia tidak bisa lagi membungkamnya dengan kata-katanya, hampir memalukan melihatnya berusaha menyakitinya.
Xavier menatap Leticia dengan tajam, lalu menyeringai padanya.
“Kau bahkan tidak tahu nilai pedang ini.”
“Itu bukan urusanmu karena aku akan memberikannya pada seseorang yang pantas menerimanya.”
Pedagang senjata itu berdiri sendiri dengan ekspresi bingung menyaksikan konfrontasi di mana kedua belah pihak tidak mau mengalah.
Chapter Comments Chapter 50 · this chapter only
0 comments