Bab 99
***
*Catatan singkat dari Baset. Bab 99 dan 100 banyak membahas tentang lamaran dan proses melamar. Entah kenapa, karena saya tahu Leticia sudah memiliki cincin pertunangan. Satu-satunya yang bisa saya pikirkan adalah lamaran awal di pesta Achilles sempat terputus karena orang-orang pingsan, dan mereka sedang membicarakan pesta/acara lamaran yang lebih resmi. Maaf jika membingungkan, karena saya sendiri juga agak bingung…*
***
Leticia sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Aster. Hari itu sangat cerah, dan ia sudah lama menatap ke luar jendela kereta ketika ia melihat sepasang suami istri sedang mengadakan pernikahan di luar ruangan. Tatapan mereka penuh kasih sayang, dan mereka tampak seperti orang paling bahagia di seluruh dunia. Leticia tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajah-wajah tersenyum mereka.
‘Aku iri.’
Sejak saat itulah.
“Bagaimana perasaan Anda saat menikah?”
Ia tiba-tiba menjadi penasaran tentang pernikahan.
Bahkan setelah tiba di kediaman keluarga Aster, ia tidak bisa melupakan pasangan yang sedang menikah itu, jadi ia bertanya pada Pangeran dan Puteri tentang hal itu. Ketika ditanya pertanyaan yang tak terduga itu, Pangeran dan istrinya saling bertukar pandang dengan heran.
“Pernikahan?”
“Ya, apakah hidup berubah banyak saat menikah?”
Mata Leticia berbinar, seolah mendorong mereka untuk menjawab. Sekilas, sudah jelas bagi pasangan itu bahwa Leticia ingin menikah. Tiba-tiba senyum lembut merekah di bibir Puteri.
“Tentu saja. Banyak hal yang berubah.”
“Apa yang paling berubah?”
“Pertama-tama, kami tinggal serumah, jadi kami tidak perlu berpisah.”
“Ah…”
Leticia mengangguk dan bergumam tanda mengerti, tapi tiba-tiba ia menutup mulutnya.
‘Kalau dipikir-pikir…’
Dia sudah tinggal bersama Enoch. Saat itu, murni niat untuk membantunya karena ia diusir oleh keluarganya.
Semakin ia memikirkannya, semakin ia sadar bahwa ia sudah hidup seperti pasangan suami istri dengan Enoch bahkan sebelum mereka menikah. Mereka tinggal serumah, dan bahkan tidur di ranjang yang sama.
‘Meski aku hanya memegang tangannya saat tidur. Tapi tetap saja…’
Entah kenapa, ia mulai merasa malu, dan Leticia menekan ujung jarinya bersama-sama. Mereka sudah cukup dekat sekarang, tapi keinginan untuk semakin dekat tiba-tiba melonjak di dalam hatinya.
Leticia tiba-tiba merasakan tatapan seseorang, ia mendongak, dan mendapati Pangeran dan Puteri tersenyum padanya. Mereka menatapnya dengan senyum paling ramah.
Mereka begitu penuh kasih sayang pada putri mereka sehingga Leticia tidak bisa menahan senyum.
‘Menakjubkan.’
Ia ditinggalkan oleh keluarganya, tapi ia tahu mereka tidak akan pernah melakukan itu. Ia tidak pernah menyangka akan ada orang yang menghargainya seperti keluarga kandungnya.
Tapi ternyata ada.
‘Kukira dunia telah membuangku, dan sekarang aku memiliki seluruh dunia di sisiku.’
Kini ada orang-orang di sisinya yang lebih seperti keluarga daripada keluarga kandungnya. Mereka adalah orang-orang yang peduli dan mencintainya, sampai-sampai ia pikir ia tidak bisa lebih bahagia dari ini.
Tapi ia lupa tentang keserakahan yang terkubur jauh di dalam hatinya.
‘Aku juga ingin menikah.’
Leticia tanpa sadar menyentuh cincin pertunangannya. Saat ini, ia lebih merindukan Enoch dari biasanya.
Jadi, ia bertanya.
“Kapan Anda paling bahagia?”
“Aku paling bahagia saat tertidur sambil memeluk istriku erat-erat.”
Pangeran Aster menjawab pertanyaan Leticia dengan setia. Puteri yang mendengarkan di sisinya, menatap Pangeran seperti ia bertingkah konyol.
“Apa yang kaukatakan di depan anak kita?”
“Apa salahnya mengatakan itu saat aku paling bahagia?”
Semakin Puteri mengkritiknya, semakin bangga Pangeran membusungkan dadanya. Leticia tertawa terbahak-bahak melihat keduanya bertengkar dengan bahagia.
Meski dulu ada saat ketika Puteri sangat sakit, mereka tetaplah pasangan yang penuh kasih.
‘Aku ingin hidup seperti itu juga.’
Sebagai pasangan yang saling menghargai dan mencintai tanpa henti.
Saat ia menatap pasangan idamannya itu, Puteri merasakan tatapannya, dan bertanya.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Tidak, aku hanya…”
Leticia, yang ragu apakah ia bisa mengatakannya, menjawab dengan hati-hati.
“Aku berpikir bahwa anak yang lahir dari Ibu dan Ayah akan dicintai, dan akan tumbuh dengan baik.”
“Leticia…”
“Kalian pasti akan menjadi orang tua yang baik bagi anak kalian.”
Hanya memikirkan seorang anak yang akan tumbuh sehat, yang mewarisi kebaikan dari pasangan Aster saja, sudah cukup memenuhi hatinya. Tiba-tiba, ia merasa sangat berterima kasih pada Pangeran dan Puteri.
“Terima kasih selalu mencintaiku, meski aku penuh kekurangan.”
“Bagaimana kau bisa berkata begitu, Leticia?”
“Aku merasa telah menerima begitu banyak.”
Mereka telah memberinya cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang tidak pernah ia terima dari keluarganya. Mereka menjaganya dalam diam, tanpa melepaskannya hingga akhir. Lalu mereka membantunya memahami cara merawat dirinya sendiri.
Namun, Pangeran Aster dan istrinya menggelengkan kepala, dan menggenggam tangan Leticia.
“Kau selalu merasa mendapatkan banyak, padahal kau tidak pernah.”
“Tapi…”
“Berkat kehadiranmu, aku bisa melewati masa-masa sulit dengan mudah.”
Jika ia berbicara tentang masa sulit, jelas itu adalah masa ketika Puteri begitu sakit hingga tidak bisa meninggalkan kamarnya. Leticia merasa sendu, ia tersenyum sedih, dan menggenggam tangan Pangeran dan Puteri.
“Leganya aku bisa memberikan kekuatan.”
Hati berat mereka menjadi ringan sedikit demi sedikit.
‘Semoga kalian berdua dikaruniai anak.’
Jauh di lubuk hatinya, ia berharap Pangeran dan Puteri diberkati.
***
Ia sedang dalam perjalanan pulang ke kediaman keluarga Achilles setelah menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan pasangan Aster. Ia tiba tepat waktu, dan bertemu Mary di pintu saat ia juga baru kembali.
“Apakah perjalananmu menyenangkan, Nona?”
“Ya, Mary. Apakah kunjunganmu dengan kakakmu berjalan lancar?”
“Ya, berkat pertimbangan Nona.”
Leticia merasa kasihan pada Mary yang jarang bisa bertemu dengan adik laki-lakinya, Ronan. Jadi, ia mendorong Mary untuk mengunjunginya hari ini. Meskipun Mary pura-pura enggan, ekspresinya cerah karena akhir-akhir ini ia sangat merindukannya.
“Bagaimana kabar Ronan?”
“Dia baik-baik saja. Dia bekerja sangat keras akhir-akhir ini karena kesehatannya sudah membaik.”
Mary, yang senang bertemu adiknya setelah sekian lama, tersenyum cerah dan menceritakan percakapan yang mereka lakukan hari ini.
“Yah, entahlah. Mereka harus membuat ramuan yang mekar, tapi mereka malah membuat ramuan yang menumbuhkan daun.”
“Astaga.”
“Mereka bilang ramuan yang salah bisa dijual setelah diuji oleh profesor untuk memastikan tidak berbahaya, tapi siapa yang mau membeli ramuan tidak berguna seperti itu?”
“Hmm…”
Ia ingin mengatakan setidaknya akan ada satu orang, tapi ia tidak bisa memikirkan siapa pun yang akan membeli ramuan itu, tidak peduli sekeras apa pun ia berpikir.
“Suatu hari nanti pasti akan ada yang membutuhkannya.”
“Aku sangat berharap begitu.”
Leticia dan Mary sama-sama memasuki kediaman sambil berpikir akan sulit bagi orang seperti itu untuk muncul. Begitu masuk, Leticia dipeluk oleh Elle yang sudah menunggu.
“Kakak, Kakak…”
“Elle, kau di sini.”
“Ya… Aku pikir aku akan mati karena kelelahan.”
Leticia bertanya-tanya apakah gelombang permintaan berlian merah muda akhir-akhir ini terlalu berat untuk ditangani, dan itulah sebabnya Elle tampak kurus dan cengeng. Sungguh menyedihkan saat Elle menatapnya dengan begitu sedih.
“Pasti kau bekerja keras.”
“Ya… Semua berkat seseorang…”
“Hmm? Apakah pemilik Pegasus menyusahakanmu?”
Merasa khawatir, Leticia mengelus kepala Elle sambil memeluknya. Namun, Elle menjawab dengan lesu.
“Sebenarnya ini salah satu orang. Aku belum pernah melihat hal seperti itu seumur hidupku.”
“Siapa dia?”
“Sulit untuk mengatakannya sekarang.”
Elle, yang manyun seperti sedang dalam dilema, memeluk Leticia lebih erat dan berkata.
“Pokoknya, akan kuberi tahu nanti, jadi tolong marahi dia.”
Ia penasaran siapa yang dimaksud Elle, tapi Leticia tidak bertanya lebih lanjut. Melihat cara Elle berbicara, entah kenapa ia merasa orang itu adalah seseorang yang dikenalnya.
Baru beberapa hari kemudian ia akan mengetahui jati diri orang itu.
***
“Apakah pertemuan dengan pamanku berjalan lancar?”
“Ya, berkatmu, kami bisa berbicara dengan baik.”
Leticia, yang sedang menghadiri pesta malam, tersenyum begitu bertemu Melony.
Setelah mengucapkan terima kasih singkat, area sekitarnya tiba-tiba menjadi ramai. Saat ia melihat sekeliling, ia melihat Enoch baru saja memasuki ruang pesta. Leticia, yang hendak mendekatinya untuk menyapa, berhenti berjalan tanpa sadar. Itu karena para bangsawan yang mendekati Enoch.
Mungkin karena suasana dingin khas Enoch, mereka tidak bisa mendekat dan menjaga jarak tertentu. Namun, tatapan pada Enoch semakin bertambah.
Begitu ia melihat para wanita mengintip ke arahnya, hati Leticia mencelos.
‘Bukan karena aku tidak mengerti…’
Meskipun ia percaya pada tunangannya, ia tetap merasa kesal entah kenapa.
Sekarang Levion tiba-tiba memutuskan untuk belajar ke luar negeri, Enoch dianggap sebagai bujangan paling diincar oleh para putri bangsawan muda.
Itu wajar saja sekarang karena segalanya berjalan lancar untuknya, seperti sedang berlayar dengan angin yang bersahabat. Selain menjadi salah satu orang paling berbakat di Ksatria Kekaisaran, dan memiliki gelar Adipati, ia juga menarik perhatian orang dengan penampilannya yang rapi. Awalnya, para wanita tidak nyaman dengan kesan tajamnya, tapi kini semakin banyak putri muda yang mulai mengaguminya. Mereka bilang ia memberikan perasaan kuat dan dapat diandalkan.
“Nona Aster.”
“….”
“Nona Aster?”
“Oh, ya. Kau memanggilku?”
Leticia mengalihkan pandangannya dari Enoch, segera mengatur ekspresinya, dan menatap temannya. Melony memasang ekspresi khawatir, sebelum ia sempat bertanya kenapa, Melony bertanya terlebih dahulu.
“Ada apa?”
“Apa?”
“Wajahmu tidak terlihat baik.”
“Ah…”
Leticia menghela napas, tersenyum canggung, dan menggelengkan kepala.
“Tidak apa-apa.”
“Tidak apa, kau bisa cerita padaku.”
“Tapi…”
“Mungkin kau akan merasa lebih baik jika menceritakannya pada seseorang.”
Melony mengatakan bahwa ia bisa bicara dengan nyaman, tapi tidak semudah yang diinginkan, dan bibir Leticia mulai bergetar.
“Itu…”
“Apa karena Adipati Achilles?”
“….!”
Leticia tidak menyangka ia akan langsung menyadarinya, dan bertanya balik.
“Bagaimana kau tahu?”
“Bagaimana aku tahu… Kau terus menatapnya.”
“Bukan, itu…”
Leticia bertanya-tanya apakah ia harus jujur, tapi akhirnya dengan enggan ia mengaku apa yang ada di pikirannya.
Singkatnya, ia berbicara dengan Enoch tentang pernikahan, tapi ia belum melamar. Itulah sebabnya ia mulai khawatir bahwa dirinya sendirilah yang ingin menikah.
Melony diam-diam mendengarkan Leticia, dan memberikan saran yang tak terduga.
“Kalau begitu, kenapa kau tidak melamar duluan?”
“A-aku?”
Mengira ia salah dengar, mata Leticia terbuka lebar, dan ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari. Melony mengangguk seolah itu hal yang wajar.
“Yang berani duluan yang dapat.”
“Tapi…”
Ia membayangkan dirinya melamar duluan, dan itu membuat wajahnya memanas. Akhirnya, ia tidak tahan, dan menundukkan kepala. Melony menghela napas sejenak, dan meraih tangan Leticia.
“Nona Aster.”
Leticia perlahan mendongak mendengar suara yang memanggilnya dengan sangat serius. Begitu mata mereka bertemu, Melony berkata dengan ekspresi yang sangat mantap.
“Kau tidak akan merasa aman sampai setelah menikah.”
“….”
Leticia segera mengerti apa yang dikatakan, dan menjadi pucat. Namun, Melony berbicara lebih tegas dengan harapan membuat Leticia lebih proaktif.
“Tidak ada yang bisa kau dapatkan hanya dengan menunggu.”
Dengan suara Melony yang tak tergoyahkan, Leticia merasa terkejut, seolah dipukul batu berat. Ia menatap kosong pada Melony sejenak sebelum menarik napas perlahan yang membantu menjernihkan pikirannya.
‘Benar juga.’
Jika ada sesuatu yang diinginkan, ia harus merebutnya terlebih dahulu.
‘Aku akan melamar duluan…’
Hanya memikirkannya sudah membuat wajahnya memanas. Leticia, yang ragu-ragu sejenak, menggigit bibirnya, dan mengepalkan tangannya.
“Kau bisa melakukannya, Leticia.”
Ia bisa mengaku perasaannya, kenapa ia tidak bisa melamar juga?
‘Jika dia tidak mau, aku yang akan melamar.’
Chapter Comments Chapter 99 · this chapter only
0 comments