Bab 91
T/L: Fleeting Cloud E/D: Spirit Song and Lie
Tidak seperti Fu Sinian yang merangkak naik dari bawah, Qin Shao terlahir dengan sendok perak di mulutnya. Setelah lulus, ia berhasil masuk ke perusahaan dan mengambil alih perusahaan tersebut. Sebelum Fu Sinian muncul, hidupnya berjalan mulus tanpa pernah menemui hambatan atau rintangan.
Di matanya, Qiao Jiao hanyalah alat yang bisa dipakai. Sekarang alat itu sudah tidak berguna, apakah ia kini menjadi beban yang bisa dibuang?
Meskipun ia dan Fu Sinian telah menjadi saingan selama bertahun-tahun, Fu Sinian tidak akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melawannya bahkan setelah semua ini.
‘Mengancamku?’
‘Pertama, kau harus lihat dulu apakah kau punya cukup pengaruh untuk menuntut.’
“Karena dia sudah bicara seperti itu, kau tidak perlu lagi mengurus masalah ini. Aku akan menangani sisanya. Pengacara Zhao, kau sudah bekerja keras.”
Pengacara Zhao juga seorang figur elit kelas berat di industri hukum. Selama bertahun-tahun, ia sudah menangani banyak sekali kasus. Orang seperti Qin Shao juga termasuk dalam kliennya. Karena itu, ia tidak terlalu terkejut. Dengan mudah ia menekan dan menyembunyikan emosinya. Ia berkata sambil tersenyum: “Baik, aku mengerti.”
Setelah Pengacara Zhao pergi, Qin Shao bangkit dan berjalan perlahan ke jendela setinggi lantai. Menatap kegelapan di luar, ekspresi matanya dipenuhi kengerian.
♠♠♠
Keesokan paginya, Yu Duo terbangun dan mendapati Fu Sinian tidak ada di sampingnya. Sinar matahari menyusup masuk melalui celah-celah tirai jendela. Ia melirik ponselnya. Sudah pukul sepuluh.
Melihat waktu, Yu Duo tiba-tiba tersadar, rasa kantuknya hilang sama sekali.
Ia tidak pernah bangun selama ini. Sungguh aneh.
Mungkin karena Fu Sinian. Bagaimanapun juga, ia berada dalam keadaan tegang yang tinggi sejak lelaki itu kembali. Mungkin itulah alasan kelelahan yang ia rasakan.
Ia turun ke bawah, tetapi mendapati seluruh vila kosong kecuali beberapa pelayan yang sedang memangkas bunga di taman.
“Nyonya, Anda sudah bangun? Mau makan apa? Aku akan memasaknya.”
Begitu Yu Duo duduk, ia bertanya, “Di mana Sinian?”
Bibi Lian berkata sambil tersenyum, “Tuan membawa Ah Chi keluar sebelum subuh.”
Yu Duo mengangguk.
‘Sepertinya dia sengaja pergi sebelum subuh.’
Bibi Lian membawakannya segelas susu, beberapa potong roti, dan telur goreng. Yu Duo melihat telur itu dan alisnya langsung berkerut, “Bibi Lian, sebaiknya kau jangan menggoreng telur lagi untukku.”
“Bukankah Nyonya dulu suka? Kenapa… ”
“Aku tidak nafsu makan.”
Bahkan alis Bibi Lian ikut berkerut, dan matanya yang penuh keibuan menatap wajah mungil Yu Duo. Akhirnya ia menghela napas dan mengambil telur itu.
“Omong-omong, Nyonya, kalau dihitung-hitung, masa haid Nyonya seharusnya sudah tiba. Aku akan merebus ramuan itu untukmu hari ini. Bagaimana keadaan tubuh Nyonya bulan lalu? Apakah lebih baik?”
“Bulan lalu…” Tangan Yu Duo yang sedang merobek roti terhenti. Sepertinya ia teringat sesuatu. Ia tersedak roti yang sedang dimakannya. Tidak ada sepatah kata pun yang bisa keluar dari mulutnya.
“Ada apa, Nyonya? Minum susunya dulu!” Bibi Lian segera menyodorkan susu hangat dan Yu Duo menenggak sebagian besarnya sambil menegadahkan kepala, membuatnya merasa lebih nyaman.
Yu Duo bukanlah orang yang tidak terbiasa minum susu. Namun, hari ini ia merasa aneh. Susu yang dibawakan Bibi Lian secara misterius berbau amis seperti bau ikan. Itu membuat perutnya mual.
Ia menutup mulutnya, buru-buru bangkit dan berlari menuju kamar mandi.
Kursi berderit, mengeluarkan suara kasar di lantai marmer.
Kemudian Bibi Lian mendengar Yu Duo muntah-muntah di arah kamar mandi.
“Nyonya, ada apa dengan Anda?”
Chapter Comments Chapter 91 · this chapter only
0 comments