Bab 29: Harimau Bertanduk Satu (3)
’Ayah sedang bergerak. Dia tidak diam saja. Dia masih bertempur.’
’Syukurlah.’
Pikiran itu datang dan pergi, digantikan oleh pikiran lain, dan lain lagi, dan lain lagi — arus deras analisis dan dugaan yang tak kunjung berhenti meski jantungnya berdebar kencang di balik tulang rusuknya yang kecil.
Judite gemetar di pangkuan ibunya, tubuh mungilnya bergetar setiap kali auman jauh menggema melalui dinding kayu kereta. Jari-jarinya terkubur begitu dalam ke dalam gaun Aurora hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya tertanam di bahu ibunya, dan isak tangis kecil keluar dari bibirnya tak menentu.
Aurora memeluknya erat ke dadanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya melingkari Lukas, menjaga kedua anaknya tetap aman dalam dekapan pelindungnya. Bibirnya bergerak dalam gumaman terus-menerus, hampir tak terdengar — sebuah doa, atau mungkin beberapa doa, yang diucapkan satu demi satu seperti rosario harapan. Mata ungunya terpejam rapat, dan butir-butir keringat dingin berkilau di dahinya yang pucat.
"Dewa-Dewa Kuno, lindungi suamiku," bisiknya dengan suara bergetar.
"Dewa-Dewa Baru, jagalah keluargaku. Semoga pedangnya tetap mantap. Semoga lengannya tak pernah goyah."
Lukas, bagaimanapun, tetap tenang.
Ketenangan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
Mata ungunya, begitu mirip dengan ibunya namun membawa sinar yang berbeda, terpaku pada celah kecil antara tirai kain dan bingkai jendela kereta. Dari sana, ia bisa melihat potongan-potongan dunia luar. Pepohonan bergoyang, kilau perak pedang Clavor memantulkan sinar matahari, dan debu yang beterbangan akibat gerakan cepat ayahnya.
Matanya bersinar dengan campuran kekhawatiran tulus pada ayahnya dan rasa ingin tahu yang intens, hampir rakus.
’Seekor Harimau Bertanduk Satu.’
Nama itu bergema di benaknya seperti lonceng.
’Aku ingin melihatnya.’
’Aku ingin melihat bagaimana ia bertarung. Aku ingin melihat bagaimana binatang itu bergerak. Aku ingin tahu seperti apa rupanya.’
Ia tahu ia tidak bisa meninggalkan kereta. Clavor sudah jelas.
"JANGAN KELUAR DARI KERETA!"
Suara ayahnya masih bergema di telinganya, dalam dan mendesak.
Aurora memegangnya erat, jari-jarinya gemetar di lengannya. Ia masih bayi. Betapa pun monsternya kekuatannya, betapa pun cerdasnya ia, betapa pun pikiran berusia delapan belas tahun di dalam tubuh berusia sepuluh bulan itu bisa memproses dan menganalisis, ia tetap rentan.
Satu sapuan cakar binatang itu bisa merobeknya menjadi dua. Satu hantaman tanduknya bisa menembusnya sebelum ia sempat berkedip.
Namun itu tidak menghentikan pikirannya dari berpacu.
’Seperti apa bulunya? Cakarnya? Tanduknya?’
’Apakah mirip dengan harimau di Bumi? Atau benar-benar berbeda?’
’Apakah ia menggunakan tanduknya untuk menyerang atau hanya untuk mengintimidasi?’
’Seberapa besar? Seberapa cepat? Seberapa cerdas?’
Pertanyaan-pertanyaan itu mengerumuni pikirannya seperti semut di sarang semut.
Seperti Tilbo di sarang semut, koreksinya dalam hati, dengan senyum kecil di dalam.
Tilbo, di dalam saku dalam mantelnya, bergerak lagi. Kali ini lebih gelisah dari sebelumnya. Lukas merasakan kaki mungilnya bergerak panik di dadanya, seolah-olah ia berlari-lari kecil di dalam ruang sempit kain itu. Tempurungnya, yang kini Lukas tahu memiliki kilau metalik yang tidak biasa, menekan kulitnya melalui lapisan dalam.
’Tenanglah,’ bisiknya, mengusap kantong itu dengan gerakan lembut yang hampir tak terlihat.
’Tidak apa-apa. Ayah akan menang.’
Lukas percaya itu.
Ia tahu Clavor sangat kuat.
Auman binatang itu terlalu dahsyat. Suara logam menghantam cakar terlalu tajam. Ketegangan di udara terlalu pekat.
Pertempuran di luar berlanjut dengan sengit.
Clavor meneriakkan perintah pendek. Suara pedangnya membelah udara terdengar jelas bahkan dari dalam kereta — desiran tajam yang menembus auman binatang itu seperti pisau menembus kain. Auman kuat lainnya menyusul, lalu hantaman yang mengirim debu ke udara. Lukas membayangkan binatang itu melompat atau mungkin dibanting ke tanah. Kereta sedikit bergetar karena getaran.
Namun Lukas tetap membuka matanya, telinganya waspada, jantungnya berpacu, tapi pikirannya sebening air mata air.
"Untuk pertama kalinya..." pikirnya saat auman lain bergema melewati hutan, membuat jendela kereta bergetar.
"Binatang buas yang sesungguhnya."
"Dunia ini benar-benar berbahaya."
Dan untuk pertama kalinya sejak kelahirannya kembali, ia merasakan kegembiraan tulus bercampur ketakutan.
Perjalanan menuju kota baru saja menjadi jauh lebih menarik.
Di luar, setelah saling bertukar beberapa pukulan lagi, Clavor mundur.
Dadanya naik turun dengan napas berat. Kemeja linennya, yang tadinya rapi, kini robek di tiga tempat berbeda. Dua goresan dangkal menandai bahu kanan dan pinggang kirinya, di mana cakar binatang itu hanya lewat beberapa sentimeter terlalu dekat dengan daging. Sebuah luka lebih dalam melintang di lengan kiri bawahnya, di mana serangan baliknya tidak cukup cepat. Darah menetes perlahan di lengannya, mengalir di antara jari-jarinya dan menetes ke tanah yang padat. Tapi itu tidak serius. Bukan sesuatu yang belum pernah dihadapinya dalam pertempuran yang lebih keras melawan musuh yang lebih berbahaya.
Harimau Bertanduk Satu itu juga berhenti.
Binatang itu berdiri hanya beberapa meter darinya, sisi tubuhnya terengah-engah, lidah merah jambunya menjulur di antara taringnya. Ekornya bergoyang perlahan dari sisi ke sisi seperti metronom yang mengancam.
Pinggangnya berdarah dari dua luka dalam yang berhasil ditimbulkan Clavor selama pertempuran. Satu di bahu kanan, di mana pedang telah memotong daging hingga ke tulang, dan satu lagi di paha belakang, menyebabkan binatang itu pincang sedikit setiap melangkah. Darah mengalir melalui bulunya yang jingga kemerahan, hitam dan kental, menetes ke jalan tanah yang padat membentuk genangan kecil berwarna gelap.
Namun mata kuningnya masih menyala dengan amukan buas.
Pandangan harimau itu menyusuri tubuh Clavor dari ujung kepala hingga ujung kaki, mencari kelemahan, keraguan, dan celah.
Tanduk tunggal di dahinya kini berdenyut dengan sinar kebiruan yang intens.
Chapter Comments Chapter 29 · this chapter only
0 comments