Bab 32: Ular Sanca Belati Es
Setelah sarapan, matahari terasa pas—tidak terlalu terik, tidak pula terlalu redup.
Raylo menyeka mulutnya dengan tisu, sementara Moonlight masih “berkelahi” dengan sisa setengah Kelinci Vanilla. Wajah kucing itu penuh minyak dan lemak.
“Ed.”
Suara Raylo bergema.
Ed melangkah maju. “Tuan.”
“Bawa satu regu Knights, dan ikutlah denganku.”
Raylo berdiri.
“Ya, Tuan!”
Ed segera bergegas mengumpulkan para prajurit.
Moonlight, seolah memahami bahwa mereka akan pergi, menghabiskan sisa kelinci itu dengan beberapa suapan cepat. Setelah itu, ia melompat ke bahu Raylo, menemukan posisi yang nyaman untuk berbaring, lalu ujung ekornya mulai berayun pelan.
Raylo tersenyum, mengabaikan kucing itu, dan berjalan lurus ke luar.
Sekelompok sekitar selusin pria pun menggerakkan kuda mereka, cepat tiba di Hutan Withered Wood—lima kilometer di tenggara Black Stone Town.
Kebanyakan pohon di sini sudah mati dan kering, cabang-cabangnya bengkok dan terpuntir. Tanahnya tertutup lapisan daun-daun jatuh yang tebal. Setiap langkah menimbulkan bunyi *KRUNCH KRUNCH*, membuat tempat itu terasa hampa dan muram.
Tak lama, mereka menemukan pohon ek yang ukurannya luar biasa besar.
“Beberapa hari lalu, saat Moonlight sedang bermain, ia menemukan sesuatu yang terkubur di bawah pohon ek ini. Gali dan lihat apa itu.”
Raylo mengusap kepala Moonlight, dan sang kucing mengeluarkan *meow* pelan tepat seperti isyarat.
Baru saja kenyang, yang ia inginkan hanyalah tidur dengan nyaman.
Berbeda dari pohon-pohon mati di sekelilingnya, pohon ek ini—meski tua—masih memiliki cabang dan daun yang relatif rimbun, tanda-tanda kehidupan yang jelas.
Para Knights langsung turun dari kuda, mengeluarkan sekop yang mereka bawa, lalu mulai menggali.
Tidak ada yang mempertanyakan apa pun. Di mata para Knights ini, apa pun yang dilakukan Moonlight adalah hal yang benar-benar normal.
Tanah beterbangan ke udara.
Tidak lama kemudian, terdengar bunyi *CLANG*—sekop itu seolah menghantam sesuatu yang keras.
“Tuan, kita menemukan sesuatu!” teriak salah satu Knights dengan nada bersemangat.
Tak lama setelahnya, sebuah kotak kayu yang tampak cukup tua berhasil digali, masih utuh.
Kotaknya tidak besar. Masih menempel lumpur basah, dan penguncinya berkarat sampai nyaris tak bisa dikenali.
Ed melangkah maju. Dengan sedikit tenaga, ia mematahkan pengunci itu.
Ia membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat tumpukan kecil yang rapi berisi benda-benda bulat berkilau—Golden Dragon Coins.
Hasil hitung cepat menunjukkan jumlahnya sekitar seratus.
Di samping Golden Dragon Coins ada dua barang lain: sebuah Gelang Perak bertatahkan Magic Patterns, dan gulungan kertas perkamen berwarna kuning tua.
Raylo mengambil gelang itu. Rasanya dingin saat disentuh, dan ia bisa merasakan fluktuasi Magic Power yang samar terkandung di dalamnya.
“Gelang Shelter?”
Ia mengenalinya—agak terkejut.
“Item Magic Tipe Rendah. Bisa mengaktifkan *Tier One Magic Shield* sebentar.”
Raylo mengeluarkan sebuah Ring dari sakunya lalu melemparkannya ke Ed, sekaligus gelang itu. “Kau ambil kedua ini dulu. Nanti kita uji efeknya.”
Ed menangkap keduanya dengan mantap.
Setelah itu, Raylo mengambil gulungan perkamen.
Ia membukanya, dan mendapati gulungan itu adalah Magic Scroll yang rusak. Di atasnya tergambar sebuah Magic Array yang rumit—terlihat dibuat untuk sihir bertahan—namun sayangnya rusaknya terlalu parah, jadi sudah tidak lagi efektif.
“Lebih baik daripada tidak sama sekali.”
Raylo menyerahkan Golden Dragon Coins dan Scroll itu kepada salah satu Knights yang ikut untuk disimpan.
“Seratus Golden Dragon Coins bukan kekayaan besar, tapi lumayan sebagai panen yang tak disangka. Shelter Bracelet ini bagus, tapi levelnya agak rendah.”
“Ayo. Ke Crying Canyon. Moonlight bilang ada barang bagus lagi di sana.”
Raylo naik ke atas kudanya, dan rombongan pun berangkat lagi.
Crying Canyon mendapat namanya dari keunikan bentuk dan kondisi wilayahnya. Jurangnya dibatasi tebing-tebing yang curam, dan ketika angin melewati celah-celah itu, suaranya menimbulkan bunyi *mengeluh*—seperti seorang wanita yang pelan-pelan menangis.
Kelembapan di lembah itu berat. Lumut menutupi batu-batu, dan udara dipenuhi aroma tanah lembap serta humus.
Semakin dalam mereka melangkah, cahaya semakin redup. Dinding jurang di kiri dan kanan seolah saling mendekat, hanya menyisakan garis tipis langit.
“Tuan, tempat ini terasa agak menyeramkan,” kata salah satu Knights tak bisa menahan diri, mengencangkan genggaman pedang di pinggangnya.
Ed, yang menunggang di samping Raylo, terus memindai sekitar dengan kewaspadaan tinggi.
Sejak menyaksikan kemampuan menakjubkan Moonlight di Hutan Withered Wood, ia tak lagi berani meremehkan kucing kecil yang tampak tak berbahaya itu.
“Kalau Tuan bilang ada sesuatu yang bagus di sini, kemungkinan besar memang benar. Hanya saja, lingkungan seperti ini bikin gelisah.”
“Semua, hati-hati. Moonlight bilang ada ular besar di sini. Bisa jadi itu Guardian Magical Beast penjaga harta karun!” Raylo mengingatkan.
Setelah mereka berjalan sedikit lebih jauh, medan di depan menjadi lebih rata, memperlihatkan sebuah lembah yang relatif terbuka.
Moonlight tiba-tiba melompat dari bahu Raylo, mendarat ringan di tanah, lalu berlari menuju sudut yang tampak tak mencolok di tengah lembah.
“Kejar!”
Raylo menggerakkan kudanya maju.
Mereka melintasi batu besar yang bentuknya seperti wajah sedang menangis, lalu area di depan perlahan terbuka.
Sebuah pohon kecil yang aneh terlihat di sana.
Tingginya kira-kira setinggi seorang manusia. Seluruh tubuhnya berwarna merah gelap. Cabang-cabangnya bengkok seperti cakar naga. Pohon itu tertutup duri-duri halus yang memantulkan kilau metalik.
Yang lebih aneh lagi adalah beberapa buah yang menggantung di cabangnya.
Ukuran buahnya sebesar telur merpati—merah menyala seperti darah—permukaannya tampak berpendar samar dengan cahaya yang mengalir, memancarkan kilau yang menggoda.
“Ini…”
Secercah keterkejutan melintas di mata Ed.
Beberapa Knights lain juga berkumpul, memeriksa pohon buah aneh itu dengan rasa ingin tahu.
“Buahnya kelihatan sangat indah.”
“Tapi hati-hati, pohonnya penuh duri.”
Tepat ketika para Knights hendak melangkah maju untuk melihat lebih dekat Pohon Buah Dragon Thorn, Moonlight—yang masih berada di bahu Raylo—tiba-tiba membusungkan punggungnya. Ia mengeluarkan geraman rendah yang mengguntur dari tenggorokannya; seluruh bulunya berdiri.
Ed bereaksi seketika.
Ia menarik Knight Sword miliknya dan memposisikan diri tepat di depan Raylo.
Tiba-tiba, hembusan angin busuk menyusup dari samping!
“HISSS—!”
Bersamaan dengan suara mendesis yang tajam, bayangan besar melesat keluar dari celah bebatuan seperti kilat. Ia langsung menerjang Knights yang paling dekat dengan Pohon Buah Dragon Thorn!
Itu ular sanca raksasa—tebalnya seperti ember air. Seluruh tubuhnya ditutupi sisik berwarna biru es yang memantulkan kilau dingin di cahaya redup.
Kepalanya berbentuk segitiga, liar dan mengerikan. Dua pupil vertikalnya, seperti lentera, mengunci mangsanya. Di dalam mulutnya yang menganga besar, empat Poison Fangs yang tajam—seperti belati—terlihat jelas, bahkan mengembuskan sedikit hawa beku.
Frost Fang Python!
“Berserak!”
Raylo berteriak, sekaligus menarik tali kekang dengan kuat. Kuda perang miliknya mengangkat kaki, hampir menghindari ekor ular yang memukul seperti cambuk.
Knights yang menjadi target juga bereaksi cepat. Mendengar peringatan Tuan, ia refleks menjatuhkan diri dan berguling—hampir saja luput dari serangan menerjang si ular.
Ular itu menerkam ke udara kosong. Kepala raksasanya menghantam tanah, dan bebatuan beterbangan dalam pecahan.
“Lindungi Tuan!”
Ed mengaum, menarik Longsword miliknya dari pinggang. Ia tidak mundur—melainkan maju untuk menghadapi Frost Fang Python.
Seketika, lingkaran halo kuning samar meletus di sekelilingnya—cahaya khas Fighting Spirit seorang Earth Knight—membuat sosoknya tampak kokoh seperti gunung.
Knights lain pun menghunus senjata mereka. Mereka membentuk formasi pertahanan sederhana, dengan Raylo dilindungi di tengah.
Serangan pertamanya gagal, Frost Fang Python segera menggerakkan kepalanya. Pupil vertikalnya yang dingin kini mengunci Ed—yang ada di posisi paling depan.
Ia mengeluarkan desis yang dipenuhi amarah. Tubuh raksasa itu melingkar sesaat, lalu melesat maju lagi seperti anak panah yang dilepaskan—kecepatannya sungguh mengejutkan!
Ekspresi Ed menjadi serius.
Ia menarik napas dalam, mendorong Circulation Fighting Spirit hingga mencapai puncaknya.
Tepat ketika mulut ular itu yang bau busuk hampir menutup, Ed mengeluarkan teriakan rendah.
Cincin di tangan kirinya berpendar samar, dan seketika kekuatan liar seperti membuncah mengalir ke seluruh tubuhnya.
Chapter Comments Chapter 15 · this chapter only
0 comments