Bab 27 - 26: Merlin Menyeduh Teh
“Diterapkan ke wajah… ini benar-benar melembapkan kulit…” kata Xia Ruqing sambil menyentuh pipinya.
“...Kau!” Mata Lady Hu yang Terhormat melebar, penuh amarah! Wanita hina itu—Lady Xia—melakukan ini dengan sengaja!
Namun seketika, amarah Lady Hu berubah menjadi kegirangan. “Aku cuma nggak tahu… apa Kaisar masih sefavorit itu seperti dulu! Aku dengar…”
“Ngapain pakai kabar burung! Aku hidup dengan baik-baik saja sekarang, jadi Lady Hu nggak perlu khawatir!” balas Xia Ruqing dingin.
Di dalam hatinya, dia ingin merobek perempuan itu berkeping-keping, tapi di permukaan, dia tetap memakai kata-kata manis yang menjijikkan seperti “kakak.” Pikirnya, *betapa menjijikkannya.*
“Kau berani bicara sepert itu padaku!” Lady Hu Terhormat benar-benar murka.
“Kenapa aku nggak berani? Kita semua Lady Terhormat, status kita sama,” jawab Xia Ruqing tenang. “Lagipula, aku nggak tidur nyenyak semalam dan perlu tidur sebentar untuk menebusnya. Aku pamit dulu!”
Setelah itu, Xia Ruqing pergi bersama Zi Yue.
Lady Hu hanya bisa ditinggalkan dalam keadaan gemetar karena marah. “Kau…!” gumamnya tersendat, menatap punggung Xia Ruqing untuk waktu lama, tapi tak sanggup merangkai kalimat yang utuh. Akhirnya, yang keluar hanya sebuah kutukan. “Nanti kau lihat!”
Lalu dia langsung membawa para pelayan istananya pergi.
「...」
Di awal bulan dua belas penanggalan lunar, turunlah beberapa kali lagi salju. Taman Kekaisaran tampak muram dan layu di mana-mana, kecuali Red Plum Grove. Di sana, bunga plum mekar dengan bangga menembus salju; warnanya begitu hidup, semerbak seperti awan kemerahan.
Paviliun Zhaohua milik Xia Ruqing letaknya sangat dekat dengan hutan plum itu. Cukup belok satu kali keluar dari pintu kamarnya, lalu berjalan sebentar di jalur istana menuju Taman Kekaisaran untuk sampai.
Begitu mendengar bahwa bunga plum merah sudah mekar, Xia Ruqing langsung merasa gembira.
“Zi Yue, ambil tungku tehnya. Kita pergi ke plum grove untuk menikmati salju dan melihat bunganya.”
“Oh… iya. Bawa juga kuas dan tinta. Aku mau menulis puisi!”
*Aku sudah latihan kaligrafi selama begitu lama. Akhirnya waktunya pamer!* pikirnya. *Bayangkan: seorang jelita di Red Plum Grove, tangan ramping seperti gioknya sedang menyeduh teh dan merangkai puisi!*
Xia Ruqing mulai larut dalam gambaran itu. *Sudahlah, mau bagaimana lagi. Surga memberiku rupa yang begitu indah, jadi aku tinggal menjalankan peran sebagai lady yang tenang dan cantik.*
Bibir Zi Yue bergerak. “Nona… kaligrafi Nona itu…”
*Kaligrafimu akan merusak suasananya, ya, Nona…?*
Xia Ruqing meliriknya. Zi Yue pun langsung menaruh apa yang sedang dikerjakannya. “Pelayan ini akan menyiapkan semuanya sekarang juga!”
Setelah itu, Zi Yue berlari pergi lebih cepat dari kelinci.
Warna putih adalah yang paling cocok untuk dipakai saat menikmati plum merah!
Xia Ruqing mengenakan pakaian istana berwarna krem dengan sulaman motif yang samar, lalu di atasnya dia memakai jubah putih polos dengan pinggiran lingkaran bulu angsa. Saat angin bertiup, bulu angsa itu lembut mengusap pipinya, memberikan pesona yang terasa seperti peri—tapi juga tetap imut.
“Apa yang harus kita pakai di kaki?” Zi Yue mengkhawatirkan sesuatu. “Sepatu biasa pasti basah cuma dalam beberapa langkah.”
“Bisa nggak pakai sepatu kayu? Yang lain pakai apa?”
“Para Lady bangsawan semuanya pakai sepatu bot dari kulit domba atau kulit rusa. Kita cuma punya sepatu bot beludru, dan itu juga gampang basah!”
“Oh…” gumam Xia Ruqing, lalu berpikir. *Sepatu bot beludru licin. Kalau begitu mending pakai sepatu kayu. Nggak akan basah, dan juga mencegah selip. Memang mungkin nggak terlalu hangat, tapi itu tetap lebih baik daripada jatuh!*
“Carikan sepasang kaus kaki tebal untuk dipakai bersama sepatu kayu!” keputusan Xia Ruqing tegas.
“Baik…” Zi Yue mengangguk lalu segera mengambilnya.
「...」
Setelah semuanya siap, Xia Ruqing berangkat bersama Zi Yue dan Xiao Xizi.
Begitu masuk ke Red Plum Grove dan berjalan beberapa langkah, mereka tiba di Hexagonal Plum Pavilion. Di sekeliling paviliun tergantung tirai sutra, membuat Zi Yue ragu.
“Sepertinya ada orang yang sudah lebih dulu datang? Kenapa paviliunnya tertutup begini!” Zi Yue mengerutkan kening.
Xia Ruqing pun melihat hal yang sama. Saat dia melangkah masuk untuk memeriksa, dia mendapati baskom arang diletakkan mengelilingi paviliun, sehingga tempat itu hangat dan nyaman.
“Sepertinya ada yang datang lebih dulu dari kita!” komentar Xia Ruqing.
“Apakah ada Lady bangsawan yang juga hendak datang?” tanya Xiao Xizi, si kasim.
“Kenapa nggak kita tunggu sebentar? Kalau ternyata memang ada orang, kita tinggal balik saja,” usul Xia Ruqing. Kadang Lady bangsawan pergi, tapi tempatnya belum sempat dibersihkan.
“Untuk sementara, taruh barang-barang kita dulu di sini, lalu kita lihat bunga plum dulu,” perintah Xia Ruqing.
“Bagus!” seru Zi Yue.
“Xiao Xizi, kamu kan bawa gunting? Kita potong beberapa bunga plum dulu untuk vas!”
“Ya, Nona!” Xiao Xizi menurut dengan gembira. Bukan hanya gunting yang dia bawa—dia bahkan dengan cermat menyiapkan vas juga, karena akan terasa tidak pantas membawa bunga plum yang begitu indah dengan tangan.
Ketiganya pun berangkat dengan ceria.
Red Plum Grove di Taman Kekaisaran berada di bawah perawatan khusus seorang kasim. Ia memangkas dan merawat pohon-pohon itu dengan teliti, sehingga bunganya mekar jauh lebih lebat dari biasanya. Di tengah salju tebal, tandan-tandan bunga merah menyala mekar dengan gemilang. Setiap kelopak yang menyimpan lapisan salju tipis terlihat sangat indah. Salju di sini tidak disapu; dibiarkan agar para tuan-tuan dan Lady terhormat bisa menikmatinya.
“Bunga plum merah ini mekar begitu cantik!”
Xia Ruqing, memakai sepatu kayu, melangkah di atas salju yang tebal sambil menimbulkan bunyi *CRUNCH* yang halus. Zi Yue menyangga tuannya, sedangkan Xiao Xizi mengikuti dari belakang sambil memegang vas dengan hati-hati.
Mereka berjalan-jalan hampir satu *shi chen* penuh, sampai akhirnya vas itu terisi penuh.
“Susahlah memilih… tiap cabangnya semuanya sempurna!” Xia Ruqing berseru sambil menenteng vas. Matanya terus terpaku pada bunga-bunga itu.
*Di kehidupan modernku, aku juga pernah melihat bunga plum di taman. Tapi begitu mekar, tempatnya langsung dipenuhi orang! Rombongan manusia akan menyerbu satu pohon saja, saling berebut foto pakai ponsel mereka. Suasananya benar-benar hancur… bagaimana bisa dibandingkan dengan keindahan di sini? Salju putih, plum merah, tembok merah, dan ubin hijau… kalau menunduk, kelihatan butiran kelopak plum yang bertebaran di salju—pemandangan yang luar biasa!*
Xia Ruqing sadar dia punya satu kebiasaan: saat melihat sesuatu yang indah, matanya selalu—tanpa bisa dikendalikan—tertarik padanya. Dia menatap pemandangan itu sampai lebih dari satu *shi chen*, tapi masih belum puas.
“Nona? Tadi Nona mau nulis puisi, kan?” Zi Yue bertanya sambil tersenyum.
Xia Ruqing menepuk dahinya. “Aduh! Aku benar-benar lupa.”
*Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi lady yang tenang dan cantik. Jangan sampai lupa… jangan lupa…*
“Ayo! Kita pulang dulu dan lihat—mungkin paviliunnya sekarang sudah kosong!”
“Ya, Nona!”
Dengan vas penuh bunga plum di tangan, Xia Ruqing kembali ke Hexagonal Plum Pavilion.
Paviliun itu masih kosong. Hanya tirai yang berayun lembut tertiup angin. Kalau ada perubahan, itu karena baskom arang membuat paviliun jadi makin hangat.
Zi Yue menoleh-oleh. Karena tidak melihat siapa pun, dia tak bisa menahan diri untuk bergumam, “Lady bangsawan mana itu? Mungkin… dia memang tidak jadi datang!”
“Masuk akal,” Xiao Xizi mengangguk setuju.
Xia Ruqing berpikir sejenak, lalu berkata, “Masuk dulu saja. Kalau nanti ada orang datang, kita tinggal beri jalan.”
“Begitu juga bisa,” Zi Yue dan Xiao Xizi sepakat.
Setelah itu, ketiganya masuk ke paviliun.
“Benar-benar hangat!” Xia Ruqing menghela napas lega, menghangatkan tangan yang kedinginan dan memerah dengan satu baskom arang.
Xiao Xizi menata kuas, tinta, dan kertas di atas meja batu, sekaligus meletakkan vas bunga plum di sana. Zi Yue menyusun bantalan kapas di bangku batu, lalu mengeluarkan tungku teh kecil dari keranjang mereka dan memasangnya. Semuanya sudah tertata rapi dan siap.
“Kalian berdua, datang menghangatkan tangan juga!” undang Xia Ruqing.
“Tidak buru-buru, Nona,” kata Xiao Xizi sambil tersenyum ramah. “Biarkan pelayan ini merebus tehnya dulu. Nona bisa minum teh hangat sebelum menulis.”
*Kalau ada anggur, pasti lebih enak!* pikir Xia Ruqing.
“Nona, kalau Nona mau minum, sebaiknya kembali ke paviliun Nona. Kalau minum di sini, itu akan menimbulkan keributan!” Zi Yue cepat menasihati. Jujur saja, nyonya mereka terlalu penuh dengan keinginan yang tak bisa ditebak!
Xia Ruqing mengangkat kedua tangannya. “Aku cuma ngomong saja.”
Teh segera mendidih, dan kertas nasi pun dibentangkan. Xia Ruqing minum satu mangkuk teh panas, lalu bersiap menulis puisinya.
Zi Yue menghaluskan batang tinta, sementara Xiao Xizi duduk di samping, menatap nyonya dengan penuh kekaguman. Walau… aku tidak tahu sejak kapan Nona belajar menulis puisi, tapi… aku yakin hasilnya pasti luar biasa!
Xia Ruqing memusatkan pikirannya sejenak, lalu mengeluarkan beberapa puisi tentang bunga plum yang pernah dia hafal di kehidupan sebelumnya. Dia meraih kuas, menirukan gaya Zhao Junyao, lalu mencelupkannya dengan leluasa ke dalam tinta hitam pekat.
Tepat ketika dia hendak mulai menggores kuas ke kertas, tiba-tiba terdengar teriakan marah dari luar paviliun!
Chapter Comments Chapter 27 · this chapter only
0 comments