Bab 13: Teman-Teman Stacy
Basement Parkiran Bawah Tanah, Eclipse West Nightclub.
Ban mobil Liam bergulir pelan lalu berhenti dengan lembut di samping mobil coupe perak milik Stacy, di garasi bawah tanah yang pencahayaannya redup.
Lampu ambient meredup di sepanjang balok-balok langit-langit, memancarkan nuansa dingin pada lantai beton yang mengilap sekaligus menonjolkan kesan mewah dari kendaraan-kendaraan yang terparkir di area VIP yang eksklusif.
Liam keluar dari mobil, merapikan sedikit jasnya berwarna navy tua yang tampak rapi. Gerakannya pas—kain yang lembut itu jatuh dan menetap dengan nyaman di tubuhnya.
Ia menghela napas perlahan, masih belum benar-benar terbiasa dengan ide untuk masuk ke sebuah klub malam. Waktu Stacy mengatakan bahwa teman-temannya sedang berkumpul, ia tidak bilang bahwa tempatnya adalah klub malam.
Rasanya agak aneh datang ke tempat seperti ini, dan dia benar-benar menantikan pengalaman ini.
“Liam,” panggil Stacy dengan suara hangat.
Stacy berdiri beberapa langkah di depannya, siluetnya terlihat jelas oleh lampu parkir yang redup. Ia tampak begitu simpel namun tetap menawan dalam gaun berwarna biru safir gelap yang dikenakannya, dipadukan dengan clutch sederhana dan sepatu hak tinggi.
Liam berjalan mendekat, menyamai langkahnya saat mereka mendekati sebuah pintu yang dijaga di sudut.
“Area parkiran bawah tanah ini khusus untuk anggota VIP tempat ini,” jelas Stacy, melirik ke samping saat mereka berjalan. “Kamu bisa lewat sini dan menghindari pintu utama serta antreannya. Lebih tenang.”
Liam mengangguk. Ia menghargai penjelasannya, tapi lebih dari itu, ia menghargai cara Stacy menyampaikannya—tanpa kesan sok atau arogan.
Tadi saat mereka melewati pintu masuk utama, Liam sempat melihat kerumunan: antrean panjang orang-orang yang menunggu giliran, ponsel di tangan, sementara para satpam berusaha mengendalikan kekacauan. Dibanding jalur privat ini, rasanya seperti dunia yang berbeda.
Ia perlahan mulai mengerti bagaimana cara dunia orang kaya bekerja. Tapi memang, ia harus mengakui—ada rasa menyenangkan juga, punya akses dan perlakuan istimewa.
Uang memang bisa membuka banyak pintu.
Sang penjaga pintu—lelaki yang lebih tua, bertubuh gempal, memakai setelan hitam rapi—langsung mengenali Stacy. Tanpa banyak bicara, ia membuka pintu untuk keduanya.
Mereka masuk ke sebuah lorong yang sunyi. Ruangannya sempit, dindingnya matte hitam, dengan lampu tanam yang menerangi jalur tanpa terlihat mencolok. Di ujung, berdiri sebuah pintu keamanan berwarna hitam yang ramping—rata dengan dinding, sama sekali tanpa tanda apa pun selain sebuah pembaca kartu kecil.
Stacy mengeluarkan kartu hitam yang tipis dengan logo klub dalam emboss mengilap. Ia mengetukkannya pada pembaca kartu, lalu terdengar bunyi bip halus.
Stacy membuka pintu, menahannya sedikit agar Liam bisa masuk. Liam melangkah ke belakangnya.
Di sisi lainnya ada koridor yang lebar—anehnya sangat terang—dengan beberapa pintu tebal yang kedap suara di kedua sisi. Bagi Liam, tempat itu lebih mirip lorong luxury suite di hotel bintang lima daripada apa pun yang ia bayangkan tentang sebuah klub malam.
“Booth kita ke arah sana,” kata Stacy.
Mereka berjalan menuruni beberapa anak tangga dan sampai di salah satu pintu. Stacy membukanya dengan dorongan pelan.
Di dalam, booth itu seperti lounge miliknya sendiri—cukup besar untuk menampung sepuluh orang dengan nyaman. Ada banquette beludru berbentuk huruf L berwarna abu-abu arang yang melingkari meja koktail berwarna hitam matte. Di atasnya tergantung lampu ambient yang lembut, dan rak bar di dinding memajang botol minuman premium di balik kaca dengan nuansa keemasan.
Di ruang lounge itu duduk enam orang lainnya—laki-laki dan perempuan muda, usianya kira-kira akhir belasan hingga awal dua puluhan. Mereka berpakaian seperti baru saja keluar dari majalah fashion. Saat pintu terbuka, mereka sedang terlibat obrolan dan tawa. Hampir seketika, ruangan menjadi sunyi.
Semua kepala menoleh ke arah pintu.
Mereka melihat Stacy dulu. Lalu, seorang pria asing dengan pakaian elegan berdiri di sampingnya.
Mereka langsung penasaran ingin tahu siapa Liam sebenarnya dan apa hubungannya dengan Stacy.
“Stacy…” Kristie, sahabatnya, mengangkat alis, nada suaranya berada di antara keterkejutan dan kekaguman.
“Teman-teman,” kata Stacy ceria, sambil menoleh sedikit. “Ini Liam. Liam, ini teman-temanku.”
Hening sebentar, dan seluruh perhatian langsung terfokus pada Liam.
Stacy melihat ekspresi mereka—mata yang melebar, kilasan pengenalan, rasa ingin tahu yang dibisikkan. Ia tersenyum samar. Tepat seperti yang ia bayangkan. Setelah Alex memberi tahu mereka tentang pemilik White Clover Residential Complex, nama Liam mulai terasa “berarti” di lingkaran sosial mereka. Dan apakah Liam ini pemilik properti itu atau bukan, cara ia membawa dirinya sendiri membuat orang-orang otomatis mengira begitu.
“Liam,” Stacy menunjuk ke lounge. “Silakan, anggap saja seperti di rumah sendiri.”
Liam mengangguk sekali, lalu duduk di sudut yang paling jauh, di samping seorang pria yang tampak sedikit lebih tua darinya—mungkin umur dua puluh dua atau dua puluh tiga.
Liam memberi pria itu anggukan sopan. Pria tersebut berusaha terlihat santai, tapi rasa ingin tahunya hampir terpancar tanpa disadari.
Stacy duduk di kursi kosong di sebelah Kristie.
Kristie, pada dasarnya, menatap Liam seperti sedang memandang teka-teki hidup yang tak sabar ingin ia pecahkan.
Melihat ketegangan yang terasa mengerat seperti tali, Stacy batuk kecil.
“Guys, kalian menatap terus. Nanti dia jadi nggak nyaman.”
Mantra itu putus, dan terdengar tawa kecil yang canggung mengisi booth.
Pria di sebelah Liam batuk sambil menutup mulut dengan tangan, lalu akhirnya menoleh.
“Maaf ya, bro,” katanya sambil tersenyum. “Nama kamu tadi… rasanya familiar banget. Nggak bermaksud nonton-nonton.”
“Tidak apa-apa,” jawab Liam dengan enteng. Suaranya tenang, tapi tetap hangat. “Belakangan ini aku memang sering jadi pusat tatapan penasaran.”
Stacy batuk lagi—kali ini terdengar canggung—lalu memalingkan wajah. Ia jelas merasa seperti jadi target.
Pria itu tertawa kecil. “Ya, wajar.”
Ia mengulurkan tangan. “Namaku Kristopher.”
“Liam,” jawab Liam sambil berjabat tangan.
Yang lain menangkap isyarat itu. Satu per satu, mereka memperkenalkan diri—Lana, Alex, Elise, Matt, Harper, dan terakhir Kristie.
Liam menerima semuanya dengan anggukan atau senyum sopan.
“Kalian belum pesan minuman?” Stacy bertanya setelah duduk.
“Kami sudah,” kata Kristopher. “Mereka harusnya sebentar lagi mengantarkan.”
Stacy bersandar, menyilangkan satu kaki. “Kalau begitu.”
“Jadi, Liam,” Kristie bertanya sambil memiringkan kepala, “kalian dan Stacy kenalnya dari mana?”
Stacy langsung menyipit—tentu saja, ini pertanyaan pertama. Memang logis dan wajar, tapi itu tetap saja tak bisa mengurangi rasa canggung di kepalanya ketika ia mengingat betapa memalukan saat pertemuan pertama mereka.
Liam tidak melewatkan perubahan halus di ekspresi Stacy. Ia membalas dengan senyum tipis paling kecil, lalu menjawab, “Kami tinggal di kompleks yang sama.”
Begitu mendengar itu, semua orang mengangguk paham—walau begitu, mereka tetap tak bisa menghilangkan rasa bahwa pasti ada semacam “sejarah” di antara keduanya.
“Berarti kamu baru ya di tempat itu?” Kristie menekan, kali ini dengan senyum yang lebih tulus.
“Iya,” jawab Liam singkat.
Mendengar ini, semua orang mengangguk lagi. Tapi justru itu membuat mereka makin penasaran dan bingung: bagaimana mungkin Liam dan Stacy bisa saling kenal secepat itu?
Terutama bagi Stacy. Ia benar-benar bingung.
Sebagai teman-temannya, mereka tahu sifat Stacy dan fakta bahwa ia nyaris tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun di kompleks. Tapi karena Stacy mengundang Liam ke sini, jelas ada sesuatu yang lebih dari itu.
Namun tetap saja, mereka tidak mengorek lebih jauh. Mereka mengembalikan topik ke alasan mereka datang—acara kumpul santai yang bernuansa perayaan.
Tepat saat itu, pintu booth terbuka, dan dua pramusaji wanita masuk, membawa nampan berisi gelas-gelas tinggi berisi koktail bertabur serpihan emas serta hidangan pembuka yang ditata dengan apik.
Chapter Comments Chapter 13 · this chapter only
0 comments